Faktor lingkungan dapat sangat merugikan infertilitas pria. Cara utama orang terpapar bahan kimia di lingkungan adalah melalui pola makan, polusi udara dan air, serta polusi di rumah dan lingkungan kerja. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesuburan di lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja, seperti: paparan logam berat dalam waktu lama (misalnya timbal, kadmium, merkuri, aluminium, tembaga, dll.), bahan kimia (misalnya pestisida, herbisida, karbon disulfida, dibromokloropropana, metiletil keton, formaldehid, asap knalpot mobil, cat yang mengandung benzena, asap rokok, bahan dan cat dekoratif yang beracun, gas rumah tangga, dll.), dan lain-lain (misalnya grafit, radiasi, dan pekerjaan di lingkungan bersuhu tinggi) dapat Mengurangi kesuburan. Beberapa ahli percaya bahwa paparan terhadap zat-zat yang memengaruhi sekresi hormon seperti estrogen, bifenil poliklorinasi (PCB), bisphenol A, alkilfenol, ftalat, atau antagonis androgen dapat menyebabkan kerusakan pada saluran reproduksi, menurunkan jumlah sperma, dan memengaruhi spermatogenesis. Racun reproduksi yang bekerja pada sistem reproduksi dapat merusak generasi berikutnya, baik secara genetik maupun ekstragenetik, dengan insektisida alkenon dan metoksiklor yang menyebabkan perubahan ekstragenetik pada sel germinal jantan, yang menyebabkan spermatogenesis yang rusak pada generasi berikutnya dari spermatozoa yang sangat dominan. Kebiasaan gaya hidup juga dapat berdampak pada kesuburan, seperti merokok, alkohol, dan mandi sauna; konsumsi minyak biji kapas dalam jangka panjang dapat menyebabkan kemandulan; dan produksi sperma juga dapat terpengaruh pada pria yang tidak banyak bergerak.