Stroke (umumnya dikenal sebagai serangan stroke) sering kali menyebabkan berbagai gangguan fungsional, salah satunya adalah afasia. Sebagian besar pasien dengan afasia pasca-stroke mengalami kesulitan berkomunikasi secara verbal, tetapi masih dapat mengekspresikan keinginan dan perasaan mereka dengan cara lain. Selain itu, meskipun pasien memiliki gangguan bicara, sebagian besar dari mereka memiliki kecerdasan yang normal dan dapat mendengar atau memahami apa yang dikatakan, jadi penting untuk berbicara secara alami dan mudah di depan pasien dan berhati-hati untuk tidak membesar-besarkan, mengejek atau menunjukkan rasa kasihan dengan air mata. Oleh karena itu, penting bagi keluarga dan orang-orang di sekitar korban stroke untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan berkomunikasi, tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan bicara pasien, tetapi juga untuk melengkapi komunikasi fungsional yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.
Bahasa dapat dipelajari kembali, tetapi kemajuannya lambat dan penting untuk memberikan kepercayaan diri dan dorongan kepada pasien. Dokter dan ahli terapi wicara dalam bidang pengobatan rehabilitasi dapat memberikan bantuan dan saran, dan banyak hal yang dapat dilakukan di lingkungan rumah. Selama percakapan sehari-hari, hadapi pasien, berkonsentrasilah pada apa yang dia katakan dan cobalah untuk memahami apa yang dia katakan. Jika ia merasa khawatir atau cemas, situasinya akan menjadi lebih buruk, jadi bicaralah kepadanya dengan bahasa orang dewasa yang normal dan jangan berhenti jika jawabannya salah. Pada tahap awal, penting untuk tidak berlatih berbicara terlalu lama, karena mencoba melakukan sesuatu yang tampaknya mustahil dapat membuat pasien bosan. Dorong pasien untuk menggunakan berbagai bentuk komunikasi, seperti gerak tubuh, menulis atau menggambar, menggunakan papan komunikasi dan buku komunikasi, hingga kemampuan bicara pasien mulai membaik. Setelah pasien dapat berbicara sedikit, cobalah untuk mengajaknya berbicara sebanyak mungkin dan merangsang minatnya dengan berbagai cara seperti membaca dengan suara keras, mendengarkan radio, menonton TV, bermain game, dll.
Jika pasien hanya dapat mengatakan “ya” atau “tidak”, maka Anda dapat mengajaknya berbicara dengan menjawab pertanyaan “ya” atau “tidak”. pertanyaan untuk membawa orang tersebut ke dalam percakapan. Tetapkan waktu setiap hari untuk belajar bahasa dan cari kesempatan untuk mempraktikkan apa yang telah dipelajari, termasuk percakapan, mengajukan pertanyaan, menyediakan waktu untuk menemukan kata-kata dan hanya memberikan bantuan jika Anda bosan atau bingung. Sejak awal, untuk kebutuhan dasar, latihlah kata-kata kunci dari setiap kalimat atau frasa terlebih dahulu. Latihan bicara dilakukan dengan menghadap pasien dan membacakan kata dan frasa yang dianggap sulit sehingga pasien dapat memahami bagaimana kata-kata tersebut terbentuk. Tape recorder atau mesin pembelajaran bahasa dapat digunakan sebagai alat bantu pelatihan bahasa. Saat melakukan berbagai latihan fungsional, gunakan lebih banyak frasa instruksional atau minta pasien membaca konten dalam hati mengikuti irama latihan.
Berikut ini adalah beberapa metode pelatihan bahasa di rumah dan hal-hal terkait.
1. Meningkatkan kosakata harian.
Mulailah dengan membuat mereka memilih kata benda. Beberapa alat bantu berikut ini sangat berguna.
(1) Guntinglah gambar-gambar dari koran atau buku yang digunakan setiap hari dan mintalah pasien untuk menyebutkan nama-nama benda yang ada di dalam gambar, atau tulislah kata-kata yang mengandung nama-nama benda tersebut di atas gambar.
(2) Tunjukkan nama-nama benda yang biasa digunakan di sekeliling Anda.
(3) Nyanyikan lagu yang disukai pasien stroke dan doronglah dia untuk menyanyikannya dengan lantang.
(4) Kategorikan gambar-gambar dari jenis yang sama. Misalnya, furnitur: meja, kursi, rak buku.
(5) Berlatih berhitung dan berhitung.
(6) Doronglah dia untuk menuliskan nama-nama gambar atau benda yang ada di dalam ruangan dengan menggunakan kata-kata atau frasa sederhana.
2. Saat kosakata meningkat, lakukan intervensi dengan kata kerja atau bagian tambahan kalimat dan dorong pasien untuk mempelajari kalimat yang lebih panjang.
(1) Jawablah pertanyaan yang agak rumit dengan lebih dari sekadar “ya, tidak”.
(2) Minta pasien untuk membacakan instruksi, yang harus dilakukan secara perlahan dan sederhana, dengan menggunakan gerakan untuk memperkuat arti kata-kata.
(3) Buatlah buku harian yang singkat dan berisi bahasa yang benar.
3. Sebelum pelatihan bicara, periksa area berikut ini untuk diperhatikan.
(1) Masalah gigi: Apakah ada kerusakan serius, atau mutilasi. Memasang gigi palsu. Temui dokter gigi jika perlu.
(2) Pendengaran: Jika pasien mengalami kesulitan mendengar, disarankan untuk mendapatkan alat bantu dengar yang sesuai.
(3) Penglihatan: Pastikan pasien dapat melihat dengan baik, terkadang diperlukan kacamata.