Pasien azoospermia harus membawa semua informasi pemeriksaan ke konsultasi, termasuk pemeriksaan air mani rutin sebelumnya, biokimia plasma air mani, pemeriksaan hormon, USG, dan lain-lain, serta membandingkan hasil pemeriksaan sebelum dan sesudahnya. Perhatian khusus harus diberikan pada fakta bahwa pasien azoospermia harus diperiksa secara langsung, dan dokter perlu mengetahui secara rinci apakah pasien pernah memiliki sperma di masa lalu, dan apakah pasangan wanitanya memiliki riwayat pembuahan; dan apakah ia pernah menderita penyakit inflamasi seperti gondongan, orkitis, epididimitis, dan lain-lain di masa lalu, dan apakah ia pernah mengonsumsi obat-obatan seperti minyak biji kapas secara teratur, yang dapat berdampak buruk pada sistem reproduksi. Palpasi testis juga dilakukan selama kunjungan pasien, yang juga sangat penting untuk mendiagnosis penyakit; dokter perlu mengetahui ukuran testis, apakah epididimis penuh, dan berapa kadar hormonnya, untuk membantu menentukan apakah biopsi testis kemungkinan menunjukkan sperma.