Kehamilan biokimiawi, yang terjadi pada awal kehamilan, adalah kehamilan di mana sperma dan sel telur diangkut ke rahim setelah penyatuan, tetapi tidak berhasil ditanamkan atau berhenti berkembang sebelum kehamilan dapat dideteksi pada USG, dan digugurkan dengan menstruasi. Penyebab kehamilan biokimia masih belum diketahui, tetapi telah ditemukan bahwa kehamilan biokimia terkait dengan faktor ibu dan embrio serta faktor pria, dan bahwa ketebalan dan toleransi endometrium, kualitas sel telur dan kualitas embrio terkait erat dengan terjadinya kehamilan biokimia. Ketebalan endometrium: Pasien dengan ketebalan endometrium <9mm memiliki insiden kehamilan biokimia yang lebih tinggi. 2. Kadar hormon ibu: berbagai hormon pada ibu memiliki dampak pada berbagai proses ovulasi, pembuahan, dan implantasi, misalnya kadar hormon estradiol dan hormon luteinising yang tidak normal kemungkinan besar akan menghasilkan kehamilan biokimia. Kualitas telur yang buruk: kualitas telur secara langsung mempengaruhi kualitas embrio dan dengan demikian dikaitkan dengan terjadinya kehamilan biokimia. 4. Kromosom embrionik: Kromosom embrionik berdampak pada kualitas embrio dan dapat, sampai batas tertentu, menyebabkan kehamilan biokimia. 5. Faktor lain: kehamilan biokimia juga berhubungan dengan usia pasien, riwayat kehamilan biokimia sebelumnya atau keguguran, faktor kekebalan ibu, usia pria dan kualitas semen. Kesimpulannya, ada banyak faktor yang dapat menyebabkan kehamilan biokimia, tetapi kehamilan biokimia biasanya merupakan hasil dari keunggulan embrio dan tidak berpengaruh pada wanita hamil, juga tidak mempengaruhi kehamilan berikutnya.