Epilepsi primer umumnya tidak memengaruhi harapan hidup pasien jika terkontrol dengan baik; sedangkan waktu bertahan hidup epilepsi sekunder terkait dengan tingkat keparahan penyakit primer yang menyebabkan epilepsi. Pengobatan epilepsi primer didasarkan pada terapi obat, yang harus mencapai tiga tujuan: mengendalikan kejang atau meminimalkan jumlah kejang; pengobatan jangka panjang tanpa efek samping yang jelas; dan memungkinkan pasien untuk mempertahankan atau memulihkan status fisiologis, psikologis, dan fungsi sosialnya yang asli. Oleh karena itu, pengobatan ini tidak berpengaruh signifikan terhadap waktu kelangsungan hidup pasien. Waktu kelangsungan hidup pasien dengan epilepsi sekunder secara khusus bergantung pada status penyakit primer. Sebagai contoh, epilepsi sekunder yang disebabkan oleh cedera otak traumatis dan tumor jinak umumnya dapat dikontrol atau bahkan disembuhkan melalui pengobatan, pembedahan, dan perawatan lainnya, dan umumnya tidak akan memengaruhi harapan hidup; jika epilepsi sekunder disebabkan oleh tumor ganas intrakranial, waktu kelangsungan hidupnya mungkin terkait erat dengan kondisi tumornya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus meminimalkan rangsangan pada tubuh dan juga saraf, serta menciptakan lingkungan yang lembut dan nyaman untuk diri kita sendiri. Pasien dengan epilepsi perlu minum obat untuk jangka waktu yang lama, secara teratur dan ketat sesuai dengan petunjuk dokter, dan melakukan pemeriksaan lanjutan secara teratur.