Pelatihan rehabilitasi patah tulang mengadopsi metode yang berkaitan dengan kondisi spesifik pasien, terutama termasuk latihan kekuatan otot, latihan mobilitas sendi, latihan proprioseptif, dan sebagainya.
1. Latihan kekuatan otot: pasien dapat memulai latihan kekuatan otot di sekitar lokasi fraktur pada tahap awal, dan secara bertahap beralih dari kontraksi otot dan diastol ke latihan anti resistensi, untuk mencegah atrofi otot, meningkatkan pemulihan kekuatan otot pasien, dan mengembalikan fungsi normal sesegera mungkin.
2. Pelatihan mobilitas sendi: di awal bantuan terapis rehabilitasi untuk gerakan pasif, secara bertahap beralih ke gerakan aktif. Untuk menghindari kekakuan sendi dan komplikasi lainnya.
3. Latihan propriosepsi: Propriosepsi berperan dalam mengkoordinasikan gerakan tubuh, setelah patah tulang, propriosepsi akan berkurang, sehingga perlu dilakukan latihan. Latihan fleksi dan ekstensi sendi aktif, latihan proprioseptif mata tertutup pada posisi yang ditentukan, dan latihan menggelindingkan botol dapat dilakukan.
Perawatan rehabilitasi patah tulang sangat penting untuk mencegah komplikasi, mempercepat penyembuhan patah tulang, dan mengembalikan fungsi sedini mungkin. Disarankan agar pasien di bawah bimbingan dokter profesional sesegera mungkin melakukan perawatan rehabilitasi untuk menghindari konsekuensi yang merugikan.