Dislokasi pinggul bawaan, juga dikenal sebagai dislokasi pinggul perkembangan, adalah suatu kondisi yang berdampak besar pada kesehatan anak-anak dan merupakan salah satu penyebab utama kecacatan fisik pada anak-anak. Setelah usia 2 tahun, anak-anak dengan subluksasi pinggul di kedua sisi pinggul memiliki gerakan yang sangat menonjol di kedua sisi panggul saat berjalan, dengan pinggul menonjol ke belakang dan tulang belakang lumbal menonjol ke depan, yang disebut postur bebek-bebek. Tiga teori telah diusulkan untuk etiologi dislokasi pinggul perkembangan: 1. Teori mekanis: malposisi janin dan persalinan sungsang menyebabkan sendi panggul mengalami tekanan mekanis dalam posisi fleksi yang tidak normal, yang dengan mudah menyebabkan dislokasi kepala femoralis. Telah dilaporkan dalam literatur bahwa membedong bayi dengan lampin, memaksa sendi panggul berada dalam posisi lurus, dapat meningkatkan kejadian displasia pinggul bawaan menurut tradisi dan adat istiadat setempat. 2, teori hormonal (menyebabkan kelemahan sendi): wanita dipengaruhi oleh estrogen saat melahirkan, menghasilkan kelemahan ligamen panggul; dan janin di dalam rahim juga terpengaruh, menyebabkan kelemahan ligamen, membuat bayi yang baru lahir rentan terhadap dislokasi kepala femoralis. 3. Displasia sistemik primer dan teori genetik: Wynne-Davies melaporkan garis keluarga dengan manifestasi asetabular yang dangkal, menunjukkan bahwa displasia asetabular primer mungkin merupakan faktor risiko untuk displasia pinggul kongenital. ortolani mengamati risiko faktor genetik dan melaporkan bahwa 70% anak-anak dengan displasia pinggul kongenital memiliki riwayat keluarga yang positif. Diagnosis dini dan pengobatan dislokasi pinggul perkembangan harus ditekankan, dengan hasil terbaik pada masa bayi dan hasil yang lebih buruk pada usia yang lebih tua. Peringatan: Secara umum diterima bahwa pengobatan setelah usia 2 hingga 3 tahun, meskipun sangat berhasil, akan mengakibatkan nyeri pinggul setelah usia 35 tahun. Oleh karena itu, sebagian besar ahli menekankan perlunya skrining pada bayi yang baru lahir sehingga diagnosis dan pengobatan dini merupakan langkah penting untuk mendapatkan kesembuhan. Pemeriksaan klinis adalah langkah pertama dalam diagnosis, hanya dapat mengindikasikan adanya masalah pada sendi panggul, tetapi diagnosis akhir perlu dilakukan dengan pemeriksaan sinar-X. Pemeriksaan sinar-X 1. Ortopantomograf panggul konvensional: dalam waktu 6 bulan setelah lahir, sebagian besar anak belum mengembangkan pusat penulangan epifisis pada kepala femoralis, sehingga kombinasi ortopantomograf bilateral sendi panggul dan posisi katak panggul bilateral diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Untuk anak di atas usia 6 bulan, diagnosis dapat dipastikan dengan melakukan ortopantomografi sendi panggul bilateral. Pemeriksaan CT dan MRI juga penting untuk anak yang lebih besar dengan dislokasi pinggul perkembangan: CT dapat mengevaluasi kondisi tulang kepala femoral dan asetabulum, dan mengukur sudut kemiringan anterior kepala femoralis dan sudut batang kepala femoralis dan leher; MRI dapat mengamati tulang rawan pada sendi panggul: tulang rawan kepala femoralis dan tulang rawan asetabular, ligamentum bundar, dan labrum glenoid.