Dada corong adalah kondisi umum dalam bedah pediatrik, dengan angka kejadian 1 dari 1000, dan merupakan kelainan bentuk bawaan dada di mana bagian bawah dan tengah tulang dada tertekan ke dalam dan tulang rawan tulang rusuk yang berdekatan ikut tertekan. Di masa lalu, sayatan kulit longitudinal sekitar 10 cm dibuat di dada anterior anak untuk memisahkan kedua sisi otot dada, mengangkat bagian tulang rusuk di kedua sisi dan memperbaikinya dengan pin baja. Operasi ini sangat traumatis, banyak mengeluarkan darah (300-400 ml), memakan waktu lama (sekitar 2,5-3 jam) dan pemulihannya lambat. Selain itu, karena mudahnya pergerakan jarum baja, jarum-jarum ini sering bergeser, bengkok dan mungkin patah, serta meninggalkan bekas luka permanen setelah operasi. Saat ini, jenis pembedahan ini kurang umum digunakan di Tiongkok. ”Bedah ortopedi dada corong invasif minimal” yang paling canggih adalah pengangkatan sternal torakoskopik, yang hanya memerlukan sayatan 1 cm di dinding dada lateral anak untuk menempatkan torakoskop, dan sayatan 2 cm di dinding dada lateral di kedua sisi untuk memperbaiki pelat baja di belakang tulang dada, yang lebih tidak invasif (tidak ada tulang rusuk yang dipotong), lebih sedikit perdarahan (5-10 ml) dan hanya membutuhkan waktu 30-40 menit. Operasi hanya membutuhkan waktu 30-40 menit, pemulihannya cepat, pelat terpasang dengan kuat, tidak ada sayatan di dada anterior dan penampilannya indah. Usia terbaik untuk pembedahan adalah 6-12 tahun. Penyebab dada corong tidak diketahui, meskipun rakhitis bisa menyebabkannya, tetapi sebagian besar merupakan kelainan perkembangan bawaan. Beberapa ahli percaya bahwa hal ini disebabkan oleh pertumbuhan tulang rawan tulang rusuk yang berlebihan, yang membengkok ke belakang dan menyebabkan dinding dada tertekan untuk membentuk dada corong. Tulang dada yang tersembunyi ke dalam menekan organ-organ vital rongga dada, mengakibatkan pertumbuhan organ dada (jantung dan paru-paru) yang terbatas dan sesak napas, yang biasanya ringan saat lahir dan sering menjadi sangat parah pada masa remaja saat tubuh tumbuh. Pada kasus yang parah, tulang dada dan tulang rusuk yang cekung bisa menekan jantung, paru-paru dan organ dalam dada lainnya, membuat anak rentan terhadap infeksi pernapasan, toleransi olahraga yang buruk, bentuk tubuh yang kurus dan lebih suka diam dan tidak bergerak. Selain efek fisiologis pada anak, dada corong juga menyebabkan banyak beban mental dan tekanan psikologis pada anak dan orang tua. Anak-anak ini sering merasa malu untuk memperlihatkan dahi mereka di depan umum, takut memakai rompi di musim panas, takut mandi di kamar mandi umum, takut berenang, dan beberapa bahkan mengembangkan isolasi psikologis.