Sementara pemikiran orang normal secara subyektif dikendalikan oleh diri mereka sendiri, beberapa pasien skizofrenia merasa bahwa pemikiran mereka tidak berada di bawah kendali mereka, atau mengalami bahwa pemikiran mereka tidak lagi menjadi milik mereka, tetapi dikendalikan oleh kekuatan eksternal. Artinya, pasien merasa bahwa pemikirannya bukan miliknya, bahwa aktivitas berpikir telah kehilangan otonominya, atau dikendalikan oleh kekuatan eksternal. Contohnya termasuk pengalaman perampasan pikiran, penyisipan pikiran, dan penyiaran pikiran. Penyisipan pikiran, pengambilan pikiran, dan penaburan pikiran adalah hal yang umum terjadi pada tahap awal skizofrenia dan pada perkembangan penuh gejala. Pikiran adalah refleksi tidak langsung dan umum dari otak manusia terhadap hal-hal yang objektif. Ini berarti bahwa proses berpikir dimediasi dengan menggunakan pengetahuan yang diketahui dan tidak bergantung pada objek yang sebenarnya. Pada saat yang sama, ini mencerminkan sifat dari berbagai hal dan hubungan internal di antara mereka. Proses berpikir mencakup proses dasar analisis, sintesis, perbandingan, abstraksi, generalisasi, penilaian, dan penalaran melalui proses asosiatif dan logis. Analisis mengacu pada pembedaan antara berbagai karakteristik dari berbagai hal; sintesis mengacu pada penghubungan berbagai fitur dari berbagai hal menjadi suatu keseluruhan; perbandingan mengacu pada membandingkan satu hal dengan hal lain dan menentukan persamaan dan perbedaannya; generalisasi mengacu pada penggalian ciri-ciri umum dari suatu kelas hal dan membuang ciri-ciri individualnya. Berpikir dilakukan dengan membentuk konsep-konsep dengan bantuan kata-kata. Menentukan hubungan antara satu konsep dengan konsep lainnya adalah proses penilaian. Membuat penilaian baru berdasarkan penilaian yang sudah ada adalah proses penalaran. Berpikir adalah fungsi otak manusia dan pada gilirannya diatur oleh pengalaman individu sebelumnya. Konteks sosial dan budaya dibatasi. Oleh karena itu, keadaan fungsional otak manusia. Keadaan psikologis individu (kebutuhan, motivasi, emosi, kepribadian, dll.) dan konteks sosial-budaya dapat mempengaruhi proses berpikir.