Rendah diri adalah cacat karakter, dan pembentukan rasa rendah diri seseorang sering kali berawal dari masa kanak-kanak. Tidak diragukan lagi, harga diri yang rendah memiliki dampak negatif pada kesehatan mental anak-anak dan memiliki efek negatif pada perkembangan normal dari aspek fisik dan mental kehidupan seseorang. Jika seorang anak sering mengalami depresi tanpa alasan yang jelas, kemungkinan besar hal itu disebabkan oleh rasa rendah diri. Rasa malu yang berlebihan Adalah hal yang normal bagi anak-anak, terutama anak perempuan, untuk menjadi sedikit pemalu, tetapi jika mereka terlalu pemalu (misalnya mereka tidak pernah berani bernyanyi di depan anak-anak, tidak pernah mau menunjukkan wajah mereka, tidak pernah berani bertemu orang lain, dll.), mereka mungkin memiliki rasa rendah diri yang kuat. Secara umum, anak-anak normal senang bersosialisasi dengan teman sebayanya dan menghargai persahabatan, tetapi sebagian besar anak-anak dengan harga diri rendah memiliki sedikit atau tidak tertarik untuk berteman, atau melihatnya sebagai “momok”. Anak-anak dengan harga diri rendah sering kali mengalami kesulitan berkonsentrasi saat belajar atau bermain, atau hanya dapat berkonsentrasi dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan oleh rasa rendah diri yang ‘menetap’. Anak-anak dengan harga diri rendah sering kali sangat sensitif terhadap komentar yang dibuat oleh orang tua, guru, dan teman sebaya, terutama kritik dari orang lain, yang sulit mereka terima dan bahkan mereka pertahankan. Dalam jangka panjang, mereka dapat mengembangkan ‘pikiran curiga’, mencurigai bahwa orang lain tidak menyukai atau menyalahkan mereka. Anak-anak dengan harga diri rendah, meskipun merasa ‘rendah diri’, sering kali secara tidak normal mencari pujian dari orang tua dan guru lebih banyak daripada anak-anak normal, dan mungkin melakukannya dengan cara yang tidak jujur dan tidak pantas, seperti dengan memalsukan atau menyontek saat ujian. Reaksi menyimpang lainnya dari anak-anak dengan harga diri rendah adalah mereka sering meremehkan dan cemburu pada orang lain, misalnya, mereka mungkin mengertakkan gigi atau bahkan terjaga di malam hari ketika guru di meja sebelah memuji mereka. Para psikolog percaya bahwa ini adalah pelampiasan emosi mereka untuk meringankan tekanan psikologis akibat rasa rendah diri dalam keluarga mereka sendiri, meskipun sering kali tidak efektif. Membenci diri sendiri Sebagian besar anak-anak dengan harga diri rendah cenderung mementingkan diri sendiri dan tidak termotivasi, percaya bahwa mereka tidak baik dan usaha mereka sia-sia. Dalam beberapa kasus, mereka mungkin menunjukkan perilaku yang melecehkan diri sendiri, seperti berkeliaran di jalanan, keluar sendirian larut malam atau menolak untuk mencari pertolongan medis ketika mereka sakit, seolah-olah dengan sengaja menempatkan diri mereka dalam bahaya atau dalam situasi yang sulit. Jika orang tua menuduh mereka melakukan hal ini, mereka akan mengatakan “Saya rendah diri” sebagai alasan. Menghindari persaingan dan kompetisi Meskipun beberapa anak dengan harga diri rendah sangat ingin unggul dalam kompetisi seperti ujian, olahraga, atau kompetisi rekreasi, mereka selalu kurang percaya diri dengan kemampuan mereka sendiri dan menyimpulkan bahwa mereka tidak mungkin menang. Akibatnya, sebagian besar anak-anak dengan harga diri rendah mencoba untuk menghindari berpartisipasi dalam kompetisi apa pun, dan beberapa didorong oleh orang lain untuk mendaftar, tetapi sering kali melarikan diri dari kompetisi dan menjadi “pembelot”. Ekspresi verbal yang buruk Lebih dari 80% anak-anak dengan harga diri rendah memiliki ekspresi verbal yang buruk. Mereka gagap, memiliki ekspresi yang tidak koheren, kurang emosi dalam berbicara, atau memiliki kosakata yang buruk. Para ahli percaya bahwa hal ini disebabkan karena rasa rendah diri yang kuat kemungkinan besar mencegah sistem otak yang bertanggung jawab atas pembelajaran bahasa untuk bekerja dengan baik.