Definisi dan tipologi kejang demam?

  Onset pertama adalah antara 6 bulan dan 4-5 tahun (6 bulan sampai 3 tahun adalah usia yang paling umum), dengan suhu 38,5°C atau lebih, terjadi pada awal infeksi akut atau penyakit menular (paling sering pada awal penyakit ketika suhu naik secara tiba-tiba, 70% kasus dipicu oleh timbulnya infeksi), dan kejang-kejang terjadi dalam waktu 24 jam setelah timbulnya demam, tidak termasuk infeksi intrakranial dan kelainan organik atau metabolik lainnya yang menyebabkan kejang-kejang.  Presentasi klinis dapat dibagi menjadi dua jenis: sederhana dan kompleks.  Ciri-ciri tipe sederhana: 1. Usia: antara setengah dan 4 tahun, jarang terjadi setelah 5 tahun.  2. Demam: biasanya karena demam akut pada awal pilek, kebanyakan kejang-kejang terjadi ketika suhu tubuh naik secara tiba-tiba hingga 38,5°C atau lebih.  3, bentuk kejang: kejang umum, dimanifestasikan sebagai kehilangan kesadaran, kejang paroksismal tonik simetris umum, juga dapat dimanifestasikan sebagai tatapan mata ganda, menyipitkan mata, berputar ke atas.  4. Durasi: durasi: berlangsung selama beberapa detik atau menit, biasanya tidak lebih dari 15 menit, tidak ada kekambuhan dalam 24 jam, cepat kembali ke kesadaran normal setelah kejang.  5. EEG: 2 minggu setelah normalisasi suhu tubuh, pemeriksaan EEG normal.  6. Pemeriksaan neurologis normal sebelum dan sesudah kejang.  7. Riwayat keluarga: ada riwayat keluarga yang sangat jelas. Prognosis jangka panjang untuk bentuk sederhana dari kejang demam adalah baik, tanpa efek pada kecerdasan, pembelajaran atau perilaku. Dengan bertambahnya usia dan perkembangan otak secara bertahap, kejang demam biasanya tidak kambuh lagi.  Karakteristik tipe kompleks: usia >6 tahun atau <6 bulan, suhu tubuh <38,5°C pada saat kejang, kelainan pada pemeriksaan neurologis setelah kejang, bentuk kejang mungkin parsial, kejang dapat berlangsung selama lebih dari 15 menit, terdapat >2 atau lebih kejang dalam 24 jam, dan EEG tetap abnormal 1-2 minggu setelah suhu tubuh normal. Prognosisnya buruk, dengan sekitar 1% hingga 2% kasus berubah menjadi epilepsi.