Epilepsi dan Sindrom Tourette berbeda dalam hal etiologi, gejala klinis, dan pengobatan. 1. Etiologi: Beberapa epilepsi merupakan akibat sekunder dari penyakit lain, seperti cedera otak traumatik, tumor otak, infeksi intrakranial, kelainan perkembangan bawaan, dll. Beberapa epilepsi berhubungan dengan genetik, dan beberapa penyebabnya tidak diketahui. Etiologi dan patogenesis sindrom Tourette tidak diketahui, sebagian disebabkan oleh lesi nukleus basal, dan sebagian lagi terkait dengan faktor kejiwaan. 2. Gejala klinis (1) Epilepsi: manifestasi klinis ditandai dengan kejang, bersifat sementara, berulang, dan stereotip. Hal ini dapat dimanifestasikan sebagai gangguan sensorik, motorik, kesadaran, mental, perilaku, disfungsi otonom atau keduanya. Hal ini dapat terlihat pada usia berapa pun. (2) Sindrom Tourette: Diwujudkan dengan kontraksi yang cepat pada satu atau beberapa otot, terpaku pada satu tempat atau mengembara, yang dapat dimanifestasikan sebagai cemberut, kedutan pada wajah, hidung mengembang, dan cemberut pada bibir. Jika otot pernapasan dan artikulatoris terlibat, kedutan dapat disertai dengan artikulasi yang tidak disengaja atau bahasa yang tidak senonoh. Hal ini lebih sering terjadi pada anak-anak, dan terlihat jelas saat mereka gugup, tetapi dapat berkurang saat mereka rileks. 3. Pengobatan: Epilepsi umumnya diobati dengan obat-obatan, yang dapat dikombinasikan dengan pembedahan jika perlu. Obat yang umum digunakan adalah natrium valproat, karbamazepin, lamotrigin, levetiracetam, dan sebagainya. Sindrom Tourette terutama diobati dengan obat-obatan dan konseling psikologis. Obat utamanya adalah haloperidol, sulpiride, thiopride atau risperidone.