Apa saja tes laboratorium yang termasuk di dalamnya?

1. Tes hematologi: Tes ini meliputi tes darah rutin, glukosa darah, elektrolit dan kalsium darah, yang dapat membantu menemukan penyebab penyakit. Tes hematologi juga digunakan untuk mendeteksi reaksi obat yang merugikan. Indikator pemantauan yang umum termasuk pemeriksaan darah rutin dan fungsi hati dan ginjal. 2 . Pemeriksaan cairan urin: termasuk pemeriksaan rutin urin dan skrining gangguan metabolisme genetik. Jika dicurigai adanya fenilketonuria, tes besi triklorida urin harus dilakukan. 3 . Pemeriksaan cairan serebrospinal: terutama untuk menyingkirkan infeksi intrakranial dan penyakit lainnya. Selain pemeriksaan rutin, biokimia dan biakan bakteri, tes etiologi untuk mikoplasma, toksoplasma, sitomegalovirus, virus herpes simpleks, sistiserkosis, dan tes sitologi untuk sel darah putih yang tidak normal juga harus dilakukan. 4. Tes genetik: Meskipun sebagian epilepsi telah ditemukan berhubungan dengan genetik, terutama jenis epilepsi tertentu, tahap perkembangan medis saat ini tidak memungkinkan untuk mendiagnosis epilepsi secara rutin dengan cara genetik. Penelitian lebih lanjut sedang dilakukan untuk memprediksi risiko epilepsi melalui tes genetik dan untuk memandu pengobatan melalui temuan genetik. 5. Tes lainnya: Untuk penyebab yang dicurigai secara klinis, tes spesifik lainnya dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan klinis atau kondisi yang realistis. Sebagai contoh, skrining toksik dapat dilakukan pada kasus-kasus di mana keracunan dicurigai sebagai penyebab kejang, dan tes yang relevan dapat dilakukan pada kasus-kasus di mana dicurigai adanya gangguan metabolisme. Pemeriksaan cairan serebrospinal pungsi lumbal dan tes genetik bukan merupakan tes rutin untuk epilepsi.