Jangan mengubah karsinogen menjadi binatang beban

  Saat ini, tingginya insiden kanker telah membuat orang “takut” terhadap kanker, dan setiap laporan penelitian tentang kanker sangat menarik perhatian. Belakangan ini, berita tentang “daging merah menyebabkan kanker” pertama kali dilaporkan di Amerika Serikat, diikuti oleh peringatan WHO bahwa 115 zat seperti ikan asin Cina juga bersifat karsinogenik, diikuti oleh “minyak sayur menyebabkan kanker”, yang telah meledakkan opini publik. Hal ini diikuti oleh laporan bahwa stres, oven microwave dan ponsel menyebabkan kanker, membuat banyak orang khawatir tentang apa yang masih bisa kita makan dan gunakan di masa depan.  Pertama-tama, kita harus memiliki pemahaman yang baik tentang karsinogenisitas. Klasifikasi karsinogen tidak didasarkan pada kekuatan karsinogenisitas, tetapi pada tingkat bukti ilmiah, termasuk survei epidemiologi, hubungan dosis-respons, dan penelitian pada hewan. Semakin jelas buktinya, semakin tinggi nilainya. Saat ini, WHO mengklasifikasikan bahan kimia yang telah dipelajari karsinogenisitasnya ke dalam empat level: Level 1: karsinogenisitas yang pasti pada manusia, Level 2A: kemungkinan karsinogenisitas pada manusia dan karsinogenisitas yang pasti pada hewan, Level 2B: kemungkinan karsinogenisitas pada manusia dan kemungkinan karsinogenisitas pada hewan, Level 3: bukti yang tidak cukup untuk menentukan apakah bahan kimia tersebut bersifat karsinogenik, Level 4: non-karsinogenik; beberapa faktor karsinogenik seperti ponsel tidak memiliki bukti karsinogenik yang terlalu jelas dan hanya diidentifikasi sebagai Level 2B Bukti ilmiah yang menyatakan bahwa gelombang mikro menyebabkan kanker bahkan lebih sedikit. Misalnya, menurut American Institute for Cancer Research, makan sekitar 50 gram daging asap sehari meningkatkan risiko kanker kolorektal sekitar 21%, yang merupakan peningkatan “risiko” 21%, bukan risiko 21% terkena kanker kolorektal. Misalnya, daging olahan dan alkohol serta tembakau, keduanya merupakan karsinogen kelas 1, tetapi ada 1 juta kematian akibat kanker terkait merokok dan 600.000 kematian akibat kanker terkait alkohol di seluruh dunia setiap tahun, dibandingkan dengan 34.000 kematian akibat kanker terkait daging olahan.  Kedua, kapasitas karsinogenik suatu karsinogen berkaitan erat dengan dosis, yang menentukan toksisitas dan mencakup baik paparan maupun waktu paparan. Bahkan karsinogen primer seperti daging olahan seperti ham dan bacon tidak bersifat karsinogenik sekali dimakan, tetapi jika dimakan dalam jumlah besar setiap hari, risiko terkena kanker usus meningkat seiring waktu. Demikian pula dengan karsinogen primer seperti alkohol, ada peningkatan risiko kanker hati dengan penyalahgunaan alkohol kronis, tetapi alkohol dalam jumlah kecil, terutama anggur, dapat bermanfaat bagi kesehatan. Oleh karena itu, adalah tidak ilmiah untuk berbicara tentang toksisitas di luar konteks ‘dosis’. Selain itu, tubuh manusia memiliki fungsi detoksifikasi dan bahkan jika sejumlah kecil zat karsinogenik dikonsumsi, zat-zat tersebut dapat dimetabolisme oleh hati melalui fungsi detoksifikasi dan tidak akan menyebabkan kanker.  Kita juga harus menyadari bahwa mekanisme kanker sangat kompleks dan merupakan hasil dari efek jangka panjang faktor internal dan eksternal seperti genetika, psikologi, pekerjaan, lingkungan dan diet, dll. Tidak ada faktor tunggal yang selalu menyebabkan kanker. Oleh karena itu, dalam menghadapi banyak laporan dan desas-desus tentang “karsinogen”, kita harus memperlakukannya secara rasional dan ilmiah, dan tidak terlalu gugup atau bias. Untuk mencegah kanker secara ilmiah, kita perlu mengikuti empat prinsip yang ditetapkan dalam Deklarasi Victoria: diet yang masuk akal, olahraga ringan, pantang merokok dan alkohol, dan keseimbangan psikologis. Kita tidak boleh tersedak makanan kita dan berharap dapat mencegah kanker dengan makan makanan anti-kanker tertentu atau tidak makan makanan “penyebab kanker” tertentu, sehingga kita terlalu banyak bekerja keras dalam hidup.