Penyebab utama insomnia adalah somatik dan psikologis. Penyebab somatik mengacu pada insomnia yang disebabkan oleh gangguan fisik seperti sindrom apnoea, hipertiroidisme, dan nyeri. Penyebab kejiwaan terutama disebabkan oleh penyakit mental dan stres. Misalnya, depresi, episode manik, dan skizofrenia, semuanya dapat menyebabkan insomnia. Insomnia juga bisa terjadi ketika orang stres karena peristiwa besar dalam hidup, kemarahan, dll. Insomnia dapat diobati dengan dua cara: pengobatan simtomatik dan pengobatan untuk penyebabnya. Insomnia hanyalah gejala. Kita perlu menemukan penyebab insomnia dengan bantuan dokter, yaitu penyebab aslinya. Setelah penyebab utamanya diobati, insomnia akan membaik secara alami. Misalnya, jika penyebab utama insomnia adalah depresi, setelah pengobatan antidepresan, suasana hati pasien akan membaik dan begitu juga tidurnya. Selain mengobati penyebab utama, mengelola emosi seseorang juga merupakan aspek penting dalam mengobati penyebabnya. Bagaimana kita bisa mengelola suasana hati kita? 1. Mengembangkan cara pandang yang positif. Selalu ada sisi positif dan sisi negatif dari segala sesuatu. Sudah menjadi kebiasaan kita untuk hanya melihat sisi negatif dari segala sesuatu, yang membuat kita mudah marah dan negatif. Orang yang negatif akan berkata, “Itu setengah gelas air!” Sedangkan orang yang positif akan berkata, “Ah, masih ada setengah gelas lagi!” Cara berpikir Anda yang mana? Ambil contoh insomnia, sebagian besar orang yang menderita insomnia merasa sangat menderita sehingga hampir tidak ada yang berpikir tentang hal-hal positif apa yang bisa keluar darinya. Ketika saya memberikan pendidikan kesehatan kepada penderita insomnia di masyarakat, saya mengarahkan orang untuk berpikir tentang apa yang positif tentang insomnia. Banyak orang mulai berpikir positif tentang insomnia. Beberapa orang mengatakan, “Insomnia membuat saya terjaga lebih lama”; yang lain mengatakan, “Insomnia bisa menjadi alasan untuk memaafkan diri saya sendiri dari kegiatan yang tidak saya sukai”; dan yang lain lagi mengatakan, “Ketika saya mengalami insomnia, saya berpikir lebih jernih dan dapat Saya bisa berpikir lebih baik tentang kehidupan”. Jika kita bisa berpikir secara berbeda dan melihat sisi positif dari segala sesuatu, kita akan berada dalam suasana hati yang lebih baik dan dengan demikian menghindari insomnia yang disebabkan oleh kemarahan. 2. Belajar mengekspresikan emosi negatif. Bahkan jika kita memiliki cara yang positif dalam memandang segala sesuatu, kita pasti akan memiliki perasaan-perasaan negatif, seperti frustrasi, kemarahan, agresi, kesedihan, dll. Dengan emosi-emosi negatif ini, jika kita tidak mengekspresikannya pada waktu yang tepat, hal ini dapat menyebabkan kerusakan besar pada cita kita. Emosi negatif itu seperti banjir, jika Anda hanya tahu bagaimana cara membendungnya, maka suatu hari banjir itu akan menghancurkan bendungan Anda. Oleh karena itu, kita perlu mengelola emosi negatif kita dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Yu Agung dengan airnya, yaitu “membuka blokir tetapi tidak menghalangi”, dengan mengekspresikan emosi negatif kita. Bagaimana kita mengekspresikannya? Ada beberapa cara untuk mengekspresikan emosi negatif kita: pertama, kita dapat berbicara dengan kerabat, teman atau psikoterapis; kedua, kita dapat berolahraga atau berteriak di ruang terbuka; ketiga, kita dapat membenamkan diri kita dalam lingkungan yang indah, seperti bepergian; keempat, kita dapat menuliskan emosi negatif kita dalam kata-kata, seperti buku harian emosional. Anda dapat memilih satu atau beberapa cara untuk mengekspresikan emosi negatif Anda sesuai dengan situasi Anda.