Banyak orang percaya bahwa suhu tubuh lebih dari 38,5°C diperlukan untuk berhenti menyusui, tetapi suhu tubuh yang tinggi tidak mempengaruhi kualitas ASI. Karena tubuh manusia adalah satu kesatuan kompleks yang terus bersirkulasi dan bermetabolisme, ASI di dalam kelenjar susu terus menerus mengalami proses sekresi, ekskresi, dan reabsorpsi, sehingga meskipun suhu tubuh meningkat, tidak akan terjadi penurunan kualitas. Sebagai contoh, jika Anda mengalami demam yang disebabkan oleh flu, Anda tidak perlu berhenti menyusui karena flu disebarkan melalui percikan air liur dan bukan oleh ASI. Jika demam disebabkan oleh diare, Anda juga tidak perlu berhenti menyusui, karena sebagian besar diare disebabkan oleh bakteri, seperti E. coli, atau infeksi virus, yang tidak ditularkan kepada bayi melalui ASI. Zat kekebalan yang penting dalam ASI, laktoferin, membunuh E. coli, mengurangi infeksi rotavirus, memperbaiki flora usus, memperbaiki mukosa usus, dan mencapai kondisi keseimbangan flora. Pada kasus mastitis ringan, menyusui tetap dapat dilakukan karena isapan bayi dapat mengurangi stagnasi ASI dan meredakan mastitis hingga ke akarnya. Hanya dalam kasus-kasus yang akan mempengaruhi perkembangan bayi yang sehat, disarankan untuk menghentikan atau menangguhkan pemberian ASI, seperti AIDS, tuberkulosis aktif, infeksi cacar air, penyakit onkologis, dll.