Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), yang dikenal sebagai ADHD di Tiongkok, adalah jenis gangguan psikologis yang umum terjadi pada masa kanak-kanak. Gangguan ini bermanifestasi dalam bentuk kurangnya perhatian dan rentang perhatian yang pendek, hiperaktif dan impulsif yang tidak proporsional dengan usia dan tingkat perkembangan, serta sering disertai dengan kesulitan belajar, gangguan perilaku dan maladaptasi. Survei domestik dan internasional menemukan bahwa tingkat prevalensi 3% hingga 7%, rasio pria dan wanita 4 hingga 9: 1. Beberapa anak yang terkena dampak masih memiliki gejala di masa dewasa, yang jelas mempengaruhi sekolah, kesehatan fisik dan mental pasien, serta kehidupan keluarga dan keterampilan sosial orang dewasa. Defisit perhatian adalah gejala inti dari penyakit ini, yang dimanifestasikan oleh kesulitan yang jelas dalam berkonsentrasi dan rentang perhatian yang pendek yang tidak sepadan dengan usia pasien. Pasien sering mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian selama kuliah, mengerjakan pekerjaan rumah atau kegiatan lainnya, dan mudah terganggu oleh rangsangan dari luar. Ketidakmampuan untuk memperhatikan detail dalam pembelajaran atau kegiatan, dan sering terjadi kesalahan karena kecerobohan. Kesulitan mempertahankan perhatian, sering dengan sengaja menghindari atau enggan terlibat dalam tugas-tugas yang membutuhkan konsentrasi berkelanjutan dalam jangka waktu yang lebih lama, seperti tugas-tugas di kelas atau pekerjaan rumah. Menunda-nunda dan ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah atau tugas yang diberikan tepat waktu. Pasien biasanya cenderung kehilangan barang, sering kehilangan mainan, alat bantu belajar, lupa jadwal kegiatan sehari-hari, dan bahkan lupa pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh guru. 2. Aktivitas yang berlebihan: Pasien sering terlihat gelisah, dengan banyak gerakan kecil pada tangan dan kaki, tidak dapat duduk dengan tenang dan berputar-putar di tempat duduknya. Di dalam kelas atau acara lain yang membutuhkan ketenangan, pasien meninggalkan tempat duduknya tanpa izin dan berlarian atau memanjat. Kesulitan dalam melakukan aktivitas atau permainan yang tenang, sibuk sepanjang hari. 3. Perilaku Impulsif Merespon dengan cepat terhadap perilaku tanpa informasi yang cukup. Bertindak secara impulsif, bertindak tanpa memperhatikan konsekuensi, dan bertindak berdasarkan dorongan hati, yang sering kali mengakibatkan perkelahian atau perselisihan dengan teman sebaya, dengan konsekuensi negatif. Menyela atau menginterupsi orang lain ketika mereka sedang berbicara, terburu-buru menjawab pertanyaan sebelum guru selesai, dan tidak dapat menunggu dengan sabar dalam antrian. Defisit perhatian, hiperaktif, dan perilaku impulsif merupakan gejala inti dari ADHD dan memiliki nilai diagnostik. Karena defisit perhatian dan hiperaktivitas mempengaruhi kemampuan pasien untuk mendengarkan pelajaran di kelas, serta kecepatan dan kualitas pekerjaan rumah, maka prestasi akademis pasien menjadi buruk, dan sering kali lebih rendah daripada kecerdasan yang seharusnya. Kelainan pada perkembangan sistem saraf Motorik halus, gerakan terkoordinasi, dan indera posisi spasial pasien tidak berkembang dengan baik. Sebagai contoh, pasien tidak dapat membalikkan tangannya, menggerakkan jari-jarinya, mengikat tali sepatu dan kancingnya, serta mengalami kesulitan dalam membedakan kiri dan kanan. Beberapa pasien disertai dengan perkembangan bahasa yang tertunda, kemampuan ekspresi bahasa yang buruk, kecerdasan yang rendah, dan masalah lainnya. 6, gangguan perilaku Tingkat komorbiditas gangguan hiperaktivitas defisit perhatian dan gangguan perilaku mencapai 30% hingga 58%. Gangguan perilaku dimanifestasikan dalam perilaku agresif, seperti pelecehan verbal, melukai teman sekelas, menghancurkan barang, menyalahgunakan orang lain dan hewan, pelecehan seksual, perampokan, dll., atau perilaku yang tidak sesuai dengan kode moral dan norma-norma sosial, seperti berbohong, membolos, melarikan diri dari rumah, membakar, mencuri, dan sebagainya. 7, ADHD dewasa untuk anak-anak dengan ADHD terlepas dari pengobatannya, 60% hingga 70% dari mereka hingga dewasa masih memiliki gejala, bagian dari kriteria diagnostik dapat mencapai ADHD dewasa. Manifestasi klinis ADHD orang dewasa berbeda dengan ADHD masa kanak-kanak, dengan “defisit perhatian” sebagai manifestasi utama dan “hiperaktif” berkurang. Karena sifat impulsif pasien, ia bertindak sembrono dan gegabah, rentan terhadap konflik dengan rekan kerja, cenderung sering berganti-ganti pekerjaan karena sifat impulsifnya, dan cenderung mengemudi secara impulsif, tidak mematuhi peraturan lalu lintas, dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Penilaian gejala pada orang dewasa dengan ADHD umumnya membutuhkan bantuan seseorang yang dekat dengan pasien, seperti pasangan, orang tua, rekan kerja, atau supervisor.