Nyeri tidak dapat dihindari oleh pasien onkologi, dan analgesia sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien onkologi. Para ahli manajemen nyeri menunjukkan bahwa karena kurangnya pemahaman akan pentingnya analgesia, sering kali terdapat banyak kesalahpahaman dari para dokter, anggota keluarga, masyarakat, hingga pasien itu sendiri. Mitos 1: Analgesik dapat membuat ketagihan Beberapa pasien dan keluarga mereka khawatir akan kecanduan morfin dan sangat tidak setuju dengan penggunaan obat penghilang rasa sakit seperti morfin. Faktanya, studi klinis telah membuktikan bahwa kecanduan opioid dalam dosis reguler untuk tujuan pengobatan analgesik sangat jarang terjadi. Peningkatan penggunaan obat oleh pasien nyeri kanker sebagian besar merupakan tanda perkembangan penyakit dan toleransi fisik terhadap obat, sedangkan ketergantungan fisik adalah fenomena farmakologis fisiologis yang normal dan tidak dapat menjadi alasan untuk menghentikan obat. Beberapa dokter dan pasien kanker percaya bahwa rasa sakit akan meningkat secara bertahap seiring dengan perkembangan kanker dan jika obat penghilang rasa sakit yang kuat digunakan pada awal penyakit, tidak akan ada obat penghilang rasa sakit lain yang tersedia pada akhir penyakit. Faktanya, penggunaan obat penghilang rasa sakit yang tepat waktu lebih aman, lebih efektif, dan membutuhkan kekuatan dan dosis obat penghilang rasa sakit yang paling rendah. Pasien dengan kanker yang tidak diobati dengan obat penghilang rasa sakit yang efektif untuk waktu yang lama lebih mungkin menderita disfungsi neurologis yang berhubungan dengan nyeri neuropatik, yang dapat bermanifestasi sebagai nyeri yang tidak dapat disembuhkan, seperti hipersensitivitas nosiseptif dan nyeri yang tidak normal. Mitos 3: Dulcolax adalah pilihan pertama obat pereda nyeri Dulcolax memainkan peran penting dalam nyeri akut akut seperti nyeri viseral, luka bakar, dan pereda nyeri pasca operasi. Pasien dan keluarganya sering menganggap Dulcolax sebagai obat mujarab untuk kanker, yang sebenarnya merupakan kesalahpahaman. Faktanya, injeksi Dulcolax dalam obat narkotika tidak boleh digunakan sebagai obat pilihan untuk meredakan nyeri kanker. Efek analgesik dulcolax hanya 1/8-1/10 dari morfin, dan metabolitnya, norethindrone, memiliki waktu paruh plasma yang panjang dan memiliki potensi neurotoksisitas dan nefrotoksisitas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menjelaskan bahwa dulcolax tidak diindikasikan untuk pengobatan nyeri kronis sedang hingga berat. Untuk pereda nyeri pada kanker stadium lanjut, sediaan morfin dianjurkan, yang tidak hanya memberikan pereda nyeri yang baik dan jarang menimbulkan ketergantungan, tetapi juga lebih kondusif untuk mengontrol nyeri dan meningkatkan kualitas hidup pasien kanker stadium lanjut.