Glukokortikosteroid topikal untuk pengobatan dermatitis dan eksim telah menjadi kebiasaan para dokter kulit selama beberapa dekade. Namun, meskipun glukokortikoid memberikan efek terapeutik antiinflamasi, anti-alergi, dan anti-proliferasi untuk memperbaiki gejala penyakit kulit, glukokortikoid memiliki efek samping yang signifikan terhadap sistem sawar kulit. Hal ini terutama tercermin dalam aspek-aspek berikut: 1. Efek pada fungsi epidermis. Glukokortikoid menunda pemulihan fungsi epidermis kulit. Setelah 3 hari penggunaan glukokortikoid topikal pada orang dewasa, tingkat pemulihan fungsi sawar kulit berkurang secara signifikan, dan jika glukokortikoid digunakan untuk waktu yang lama, kehilangan air dasar dapat meningkat hampir 3 kali lipat. 2. Efek pada metabolisme lipid. Glukokortikoid membuat kulit menjadi lebih kering. Setelah 3-4 minggu perawatan glukokortikoid lokal pada kulit orang dewasa normal, kandungan lipid pada stratum korneum berkurang lebih dari 24%. 3. Efek pada proliferasi dan diferensiasi sel. Glukokortikoid membuat kulit menjadi lebih tipis. Pada kulit normal, glukokortikoid dapat menghambat proliferasi dan diferensiasi epidermis. 4. Efek pada kepadatan dan kelengketan stratum korneum. Glukokortikoid memengaruhi kepadatan secara proporsional dengan dosisnya. Glukokortikoid mengurangi daya rekat antara sel-sel pembentuk keratin dan membuat kulit mudah mengelupas. Seperti yang dapat dilihat di atas, glukokortikoid memiliki efek klinis sementara pada dermatitis dan eksim, tetapi juga memperburuk fungsi pelindung kulit pasien yang sudah rusak. Akibatnya, dermatitis dan eksim lebih mungkin untuk kambuh. Oleh karena itu, penggunaan produk perawatan kulit yang melembapkan bersama dengan glukokortikosteroid topikal tidak hanya meningkatkan kemanjuran pengobatan, tetapi juga mengurangi kekambuhan penyakit.