Meskipun alkohol pada awalnya bertindak sebagai obat penenang, minum sebelum tidur dikaitkan dengan gangguan tidur yang ditandai dengan gelombang delta aktivitas electroencephalographic (EEG) slow wave sleep (SWS). Gelombang delta EEG berkurang secara signifikan pada anak usia 12-16 tahun yang berkembang secara normal, yang biasanya merupakan usia di mana penggunaan alkohol dimulai. Sebuah studi tentang efek alkohol pada tidur pada siswa sekolah menemukan bahwa minum sebelum tidur tidak hanya menyebabkan peningkatan gelombang delta terkait SWS, tetapi juga menyebabkan peningkatan gelombang alfa frontal yang mengganggu penanda tidur. Temuan ini dipublikasikan secara online pada bulan Februari 2015 dalam jurnal Alcoholism: Clinical & Experimental Research. Penelitian ini diselesaikan oleh Christian L. Nicholas, MD, dari University of Melbourne, Australia, dan total 24 peserta (12 wanita, 12 pria), sehat, berusia 18-21 tahun, peminum sosial, yang mengonsumsi kurang dari tujuh minuman standar per minggu selama 30 hari terakhir direkrut untuk uji coba. Setiap peserta minum alkohol, atau plasebo, sebelum tidur, diikuti dengan pemantauan polisomnografi standar dengan rekaman EEG lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alkohol meningkatkan gelombang delta selama tidur gerakan mata tidak cepat (NREM), dengan peningkatan alfa frontal secara bersamaan. Studi ini menyimpulkan bahwa konsumsi alkohol sebelum tidur tidak meningkatkan kualitas tidur dan meningkatkan durasi tidur nyenyak.