Terapi rangkap tiga pada artritis reumatoid aktif awal: uji coba terkontrol secara acak, tersamar tunggal, yang membandingkan rejimen bertahap bertahap dan kombinasi. Tujuan: Studi awal rheumatoid arthritis yang dikontrol ketat telah menunjukkan bahwa eskalasi bertahap intensif dengan obat anti-rematik paliatif (DMARD) lebih unggul daripada rejimen konvensional sebagai pilihan pengobatan dalam pengelolaan rheumatoid arthritis (RA) awal sebagai respons terhadap aktivitas penyakit yang sedang berlangsung. Kami melakukan penelitian ini untuk menguji hipotesis bahwa terapi rangkap tiga awal memiliki efikasi yang lebih baik daripada terapi bertahap bertahap dalam rejimen dosis pengobatan penyakit parah. Metode: 96 pasien dengan RA awal (durasi rata-rata penyakit 11,5 bulan) diacak untuk terapi step-up (3 bulan monoterapi dengan salazosulfapyridine [SSZ] diikuti oleh methotrexate [MTX]. Hydroxychloroquine [HCQ] ditambahkan ketika MTX mencapai dosis maksimum yang dapat ditoleransi). Atau terapi rangkap tiga (SSZ/MTX/HCQ). Semua pasien dinilai setiap bulan selama 12 bulan. Jika skor aktivitas penyakit pasien (DAS28) lebih besar atau sama dengan 3,2 pada 28 sendi, dosis DMARD ditingkatkan sesuai dengan protokol desain eksperimental dan tretinoin disuntikkan ke dalam sendi yang bengkak (dosis maksimum 80 mg per bulan). Penilaian dilakukan setiap 3 bulan oleh seorang metrolog yang tidak memiliki pengetahuan tentang alokasi pengobatan. Indikator hasil utama adalah penentuan penurunan rata-rata DAS28 pada bulan ke-12. Hasil: Kedua kelompok menunjukkan perbaikan substansial dalam aktivitas penyakit dan hasil fungsional. Pada bulan ke-12, rata-rata skor pengurangan DAS28 adalah -4,0 (kelompok pengobatan bertahap bertahap) dan -3,3 (kelompok pengobatan kombinasi), masing-masing (p=0,163). persentase pasien dengan remisi DAS28 (45% dan 33% pada kelompok pengobatan bertahap bertahap dan kelompok pengobatan kombinasi, masing-masing), respons DAS28 yang baik (masing-masing 60% dan 41%), atau memenuhi American College of Rheumatology (American College of Rheumatology). (ACR20) (masing-masing 77% dan 76%), ACR50 (masing-masing 60% dan 51%) atau ACR70 (masing-masing 30% dan 20%), tidak ada perbedaan yang signifikan yang ditemukan dalam persentase pasien dengan respons yang baik. Perkembangan radiologis (pencitraan) serupa di antara kedua kelompok. Kesimpulan: Studi ini menegaskan bahwa penggunaan DMARD konvensional sebagai bagian dari rejimen pengobatan penyakit intensif bisa sangat efektif dalam mengendalikan aktivitas penyakit. Dalam kondisi ini, terapi bertahap bertahap dan terapi tiga kali lipat setidaknya sama efektifnya.