I. Apakah demensia itu? Demensia adalah sindrom gangguan intelektual yang menetap dan didapat dari berbagai penyebab. Dalam istilah awam, ini berarti bahwa kecerdasan seseorang sebelumnya normal, tetapi karena suatu alasan telah menurun, memengaruhi daya ingat, bahasa, penilaian, pemahaman, dll., dan secara serius mengganggu kehidupan sehari-hari dan kehidupan sosial. Penurunan ini bersifat jangka panjang dan terus-menerus, dan gangguan sementara yang disebabkan oleh pengobatan atau penyakit tidak dapat didiagnosis sebagai demensia. Survei menunjukkan bahwa prevalensi demensia pada orang yang berusia di atas 65 tahun adalah sekitar 6%, dan prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia, meningkat dua kali lipat setiap lima tahun, dan mencapai 27% pada orang yang berusia di atas 85 tahun. Seiring bertambahnya usia, jumlah penderita demensia meningkat dengan cepat. Kemampuan sosial dan perawatan diri pasien sangat berkurang, sehingga membutuhkan perawatan jangka panjang oleh anggota keluarga, yang secara serius memengaruhi kehidupan pasien dan keluarganya, serta telah menjadi masalah medis dan kesehatan utama di seluruh dunia. Apa saja gejala umum demensia? Manifestasi klinis demensia terutama adalah gangguan intelektual, gejala psiko-perilaku, dan berkurangnya kemampuan untuk melakukan tugas sehari-hari. 1. Gangguan Intelektual Gangguan intelektual adalah gejala utama demensia, termasuk gangguan memori, gangguan bahasa, penurunan persepsi, disorientasi, penurunan daya kalkulasi, dan gangguan perhatian. (1) Gangguan daya ingat Tahap awal demensia cenderung melibatkan daya ingat yang memburuk, yang dimanifestasikan dengan ketidakmampuan untuk mengingat kejadian yang baru saja terjadi, seperti isi percakapan, acara televisi, makanan terakhir yang dimakan, lupa lokasi barang, lupa minum obat atau barang yang akan dibeli, mengulang-ulang kalimat atau kejadian, seperti menanyakan kepada tamu “Bagaimana kabar orang tua Anda?” dan kemudian menanyakan hal yang sama berulang kali. dan kemudian menanyakan hal yang sama lagi beberapa saat kemudian. Seiring dengan perkembangan penyakit, ingatan jauh pasien juga terpengaruh pada tahap pertengahan, melupakan kejadian-kejadian di masa lampau, ketika pasien sering tidak dapat berkata-kata dan hanya sedikit sekali yang dapat diingat, dan percakapannya sering terbatas pada satu atau dua hal yang biasa dilakukannya. (2) Gangguan bahasa Pasien dengan demensia dini cenderung mengalami kesulitan menemukan kata-kata, ragu-ragu dan bicara hampa, yang akhirnya berkembang menjadi afasia total seiring dengan perkembangan penyakit, dengan pasien yang diam atau hanya bergumam dan sama sekali tidak dapat memahami atau mengekspresikannya. (3) Penurunan kemampuan menggunakan Kemampuan pasien untuk menggunakan toilet secara bertahap menurun pada tahap tengah dan akhir demensia, dengan pasien secara bertahap tidak dapat menyiram, tidak dapat berpakaian atau menanggalkan pakaian, tidak dapat makan dengan mudah dan membutuhkan perawatan. (4) Penurunan kemampuan persepsi Ketika penyakit ini berkembang ke tahap sedang, pasien tidak dapat mengenali kiri dan kanan, dan tidak dapat mengenali jari-jarinya sendiri. Pada kasus yang parah, pasien tidak dapat mengenali wajah orang yang dicintainya dan tidak dapat mengenali dirinya sendiri di cermin. (5) Disorientasi Pada awal demensia, dapat terjadi disorientasi temporal yang parah, di mana pasien tidak mengetahui hari, bulan, tahun, atau musim. Seiring dengan perkembangan penyakit, orientasi terhadap tempat dan orang menjadi semakin terganggu, dengan pasien tidak tahu di mana dia berada dan tidak dapat membedakan orang. (6) Diskalkulia Pada awal demensia, kemampuan pasien untuk menghitung berkurang dan tidak mampu melakukan perhitungan yang rumit. Ketika demensia berlanjut ke tahap menengah dan akhir, pasien tidak dapat melakukan perhitungan yang sangat sederhana seperti 2+3 atau 1+2 dengan benar. Sebagai akibat dari penurunan kecerdasan, kemampuan pasien untuk bekerja berkurang, misalnya, karena salah menghitung, salah menerima pelajaran dari guru, atau karena terpaksa berhenti bekerja. Beberapa pasien tampaknya dapat bekerja, tetapi tugas-tugas ini biasanya sederhana dan terprogram (misalnya penjaga gudang, dll.) Dan begitu masalah baru muncul di tempat kerja atau persyaratan pekerjaan berubah, pasien tidak dapat melakukannya. Pasien tidak dapat menghitung rekening, berbelanja, pergi ke luar kota, berpindah-pindah tempat tinggal, dan melakukan tugas-tugas rumah tangga yang sederhana. Pada tahap awal, aktivitas dasar kehidupan sehari-hari pasien seperti makan, berpakaian dan membuka baju, mencuci, naik dan turun dari tempat tidur, naik dan turun tangga, serta kontrol usus dan kemih masih normal. Pada stadium menengah, pasien tidak tahu bagaimana cara buang air kecil atau buang air besar tepat waktu, sering mengotori celana, mengotori baju dan menumpahkan makanan di atas meja. Pada kasus yang parah, pasien perlu diperhatikan saat makan, berpakaian, buang air kecil dan besar. 3. Gejala psiko-perilaku Gejala psiko-perilaku adalah manifestasi umum dari demensia. Gejala mental meliputi halusinasi, delusi, apatis, kemauan yang berkurang, kegelisahan, depresi, agitasi, paranoid, dan gangguan tidur. Kelainan perilaku termasuk mengembara, hiperaktif, agresi, kekerasan, menyembunyikan sesuatu, makan berlebihan dan makan omnivora. Beberapa pasien mengalami perubahan kepribadian yang signifikan, dan orang yang sebelumnya sangat murah hati dapat menjadi egois dan tidak peduli pada keluarga mereka. Gejala psiko-perilaku memiliki konsekuensi serius yang merugikan bagi pasien dan pengasuh, dan merupakan salah satu alasan utama mengapa penderita demensia harus berobat ke rumah sakit.