Pertimbangan diet untuk mencegah kanker usus

  Dalam beberapa tahun terakhir, insiden kanker kolorektal di Tiongkok telah meningkat secara signifikan. Dengan membaiknya tingkat ekonomi, pola makan penduduk Tiongkok menjadi semakin halus, dan kebiasaan pola makan yang buruk dari konsumsi jangka panjang makanan berkalori tinggi, berlemak tinggi, berprotein tinggi, dan berserat rendah berkaitan erat dengan terjadinya kanker kolorektal. Pada saat yang sama, orang Tionghoa umumnya memiliki sedikit pengetahuan tentang diet dan tidak terlalu memperhatikan hubungan erat antara diet dan kanker.  Penelitian telah menunjukkan bahwa diet yang mengandung asam lemak jenuh tingkat tinggi dapat meningkatkan konsentrasi asam empedu dalam kolorektum dan mengubah komposisi flora usus, dan bahwa asam empedu dapat menghasilkan zat karsinogenik melalui aksi bakteri. Serat makanan, termasuk selulosa, pektin dan lignin, menyerap air, meningkatkan volume feses dan memperpendek waktu yang diperlukan feses untuk melewati kolorektum, sehingga mengurangi waktu bagi karsinogen untuk bersentuhan dengan mukosa usus. Asupan serat makanan yang tidak memadai juga merupakan faktor dalam perkembangan kanker usus besar. Oleh karena itu, struktur diet ilmiah dan kebiasaan makan yang wajar sebagian besar dapat mencegah terjadinya kanker kolorektal.  Bagaimana mengembangkan kebiasaan diet ilmiah dari perspektif pencegahan kanker?  Pertama-tama, diet seimbang adalah cara penting untuk menghindari kekurangan berbagai nutrisi. Kebiasaan makan parsial tidak diinginkan, terutama dalam masyarakat modern yang serba cepat, dan penting untuk tidak menyederhanakan pola makan untuk mengejar kenyamanan dan secara sadar mengonsumsi berbagai nutrisi.  Kalsium dan vitamin D memiliki efek anti-kanker yang potensial Kalsium berkaitan erat dengan metabolisme vitamin D. Beberapa penelitian lebih lanjut menemukan bahwa kejadian kanker kolorektal pada orang yang mengonsumsi vitamin D dalam jumlah yang cukup dalam diet mereka setiap hari hanya setengah dari orang yang mengonsumsi sedikit vitamin D. Kejadian kanker kolorektal pada orang yang mengonsumsi sekitar 1200 mg kalsium atau lebih per hari hanya seperempat dari orang yang mengonsumsi kurang dari 625 mg kalsium per hari. Oleh karena itu, para ilmuwan menyimpulkan bahwa asupan kalsium berhubungan negatif dengan risiko kanker kolorektal, sementara vitamin D memiliki efek anti-kanker yang potensial. Para ahli merekomendasikan bahwa asupan harian 1800 mg kalsium untuk pria dan 1500 mg untuk wanita adalah dosis yang tepat untuk pencegahan kanker usus besar yang efektif. Selain itu, semua orang dewasa harus memiliki asupan vitamin D 200 IU (5 mcg/hari).  Studi epidemiologi telah menemukan bahwa pola makan di daerah dengan insiden kanker kolorektal yang tinggi ditandai dengan kandungan lemak yang tinggi, sementara pola makan di daerah dengan insiden rendah lebih rendah lemak. Studi mendalam telah menemukan bahwa diet tinggi lemak dapat menyebabkan peningkatan metabolit asam empedu (asam deoksikolat, asam litopanat), metabolit kolesterol (steroid dan keton padat) dan aktivitas glukuronidase bakteri dalam tinja, yang semuanya bersifat karsinogenik atau karsinogenik dan dapat menyebabkan kanker kolorektal. Oleh karena itu, ada kaitan langsung atau tidak langsung antara diet lemak yang berlebihan dan kanker kolorektal.  Mendorong konsumsi makanan kaya serat seperti sayuran segar dan buah-buahan Mereka yang tidak menyukai sayuran, buah-buahan dan biji-bijian kasar harus menyadari perlunya menyesuaikan kebiasaan mereka. Penelitian telah menemukan bahwa kekurangan serat dalam makanan dapat mengurangi jumlah tinja dan memperlambat gerak peristaltik usus, sehingga meningkatkan konsentrasi karsinogen dalam usus dan memperpanjang waktu bagi karsinogen untuk berinteraksi dengan selaput lendir dinding usus, sehingga memudahkan terjadinya kanker kolorektal. Makan lebih banyak konjak, kedelai dan produknya, buah-buahan segar dan ganggang; makan lebih banyak sayuran yang kaya serat makanan, seperti seledri, daun bawang, kubis, lobak, dan sayuran berdaun hijau lainnya, yang dapat merangsang gerak peristaltik usus, meningkatkan jumlah gerakan usus, dan menghilangkan zat karsinogenik dan beracun dari feses. Serat makanan harus ditambah dengan setidaknya 35 gram per hari.  Karoten, vitamin B2, vitamin C dan vitamin E semuanya memiliki peran dalam mengurangi kejadian kanker kolorektal. Kekurangan vitamin-vitamin ini dalam jangka panjang dalam makanan dapat meningkatkan kemungkinan kanker kolorektal. Makan lebih banyak buah-buahan untuk mengisi kembali karotenoid dan vitamin C. Makan kenari, kacang tanah, produk susu dan makanan laut secukupnya untuk mengisi kembali vitamin E. Anda dapat makan makanan dengan efek anti-tumor dan meningkatkan kekebalan tubuh, dan memperhatikan asupan makanan yang kaya akan elemen selenium seperti malt, ikan dan jamur. Meningkatnya kemungkinan kanker kolorektal pada orang yang sering makan makanan acar mungkin terkait dengan zat karsinogenik yang dihasilkan dalam proses pengawetan makanan. Penting untuk meminimalkan konsumsi makanan acar. Konsumsi bawang merah dan bawang putih secara teratur dapat mengurangi kejadian kanker kolorektal, dan mekanisme penghambatan kanker mungkin terkait dengan pengurangan kerusakan selaput lendir dinding usus oleh zat karsinogenik.  Singkatnya, terjadinya kanker kolorektal sangat erat kaitannya dengan kebiasaan pola makan yang buruk. Meskipun terjadinya kanker kolorektal tidak sepenuhnya ditentukan oleh kebiasaan pola makan, namun bagaimanapun juga, kebiasaan pola makan yang buruk dapat sangat berkontribusi pada kemungkinan orang terkena kanker ini. Pendidikan kesehatan bagi orang Tionghoa, khususnya pendidikan kesehatan pola makan, sangatlah penting. Struktur dan kebiasaan diet ilmiah harus sangat membantu dalam mencegah perkembangan kanker kolorektal.