Kanker serviks, yang membunuh 300.000 wanita di seluruh dunia setiap tahunnya, dianggap sebagai “penyakit menular seksual”. Penggunaan kondom adalah senjata yang efektif untuk melawan penyakit ini, karena 93 persen kanker serviks disebabkan oleh virus papiloma manusia yang ditularkan melalui hubungan seksual. Faktanya, infeksi berkepanjangan dengan jenis virus papiloma tertentu adalah penyebab utama kanker serviks. Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), kanker serviks saat ini menyerang hingga 500.000 wanita di dunia setiap tahunnya. Pusat penelitian yang berbasis di Lyon, Prancis, baru-baru ini menerbitkan beberapa materi penelitian yang dilakukan di Spanyol, Kolombia, dan Amerika Serikat oleh para profesor seperti Nubia Juno dan Xavier Bosch, yang menunjukkan bahwa pria memiliki “tanggung jawab utama” dalam proses istri mereka terjangkit kanker serviks. Di Spanyol, di mana angka kejadian kanker serviks tidak terlalu tinggi (5-6 dari 100.000 wanita menderita penyakit ini), risiko istri mereka tertular kanker serviks meningkat dengan faktor 5 hingga 9 untuk pria yang memiliki virus papiloma manusia pada penisnya. Semakin banyak pasangan seksual di luar nikah yang dimiliki seorang suami, terutama dengan PSK, semakin besar kemungkinan istri mereka tertular penyakit ini. “Istri dengan suami yang tidak setia memiliki risiko 11 kali lipat lebih tinggi terkena kanker serviks dibandingkan perempuan lain.” Di Kolombia, di mana angka kejadian kanker serviks cukup tinggi (40 dari 100.000 wanita terkena penyakit ini setiap tahunnya), ditemukan bahwa para pria di sana sering terinfeksi virus papiloma manusia (HPV), mungkin karena jumlah pasangan seksual di luar nikah yang cukup banyak. Di Kolombia, persentase pria yang mengidap HPV mencapai 25 persen, sedangkan di Spanyol hanya 5 persen. Kanker serviks adalah kanker paling serius kedua yang menyerang wanita di dunia dan jenis kanker yang paling umum di negara-negara berkembang. Infeksi human papillomavirus dan kanker serviks harus dianggap sebagai penyakit menular seksual. Amerika Serikat kini telah mengembangkan vaksin virus papiloma, yang diberikan pada wanita di bawah usia 13 tahun, yang sangat mengurangi kemungkinan mereka terkena kanker serviks di masa depan.