Mengendalikan gejala psiko-perilaku demensia

Gejala psiko-perilaku sering terjadi pada pasien demensia, sehingga meningkatkan angka kematian pasien dan beban pengasuh. Pengendalian gejala psiko-perilaku secara tepat waktu dan efektif dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Saat ini, perawatan non-farmakologis dan farmakologis tersedia untuk meningkatkan perawatan psiko-perilaku. Perawatan non-farmakologis terutama mencakup intervensi psikologis untuk pasien dan pengasuh, dan merupakan perawatan yang lebih disukai untuk meningkatkan perilaku mental. Perawat diharuskan memperlakukan pasien dengan hormat dan bahasa yang baik sambil mempertahankan lingkungan yang aman dan relatif tenang untuk menghindari pemicu gejala psikobehavior pasien. Sebelum melakukan pengobatan non-farmakologis, perubahan perilaku dan emosi pasien perlu dianalisis untuk menentukan penyebab atau pemicu pengobatan yang tepat dan tepat sasaran. Efektivitas pengobatan harus diperiksa setelah pengobatan, dan gejala harus dinilai kembali untuk memandu langkah pengobatan selanjutnya. Obat-obatan telah banyak digunakan dalam pengobatan perilaku kejiwaan dan telah mendapatkan hasil yang positif. Namun, karena sebagian besar pasien berusia lanjut, prinsip-prinsip berikut harus diperhatikan dalam penggunaan: (1) mulai dengan dosis rendah; (2) perlahan-lahan tingkatkan dosis; (3) interval yang sedikit lebih lama di antara kenaikan; (4) cobalah untuk menggunakan dosis efektif terkecil; (5) dapat meringankan kondisi, tetapi tidak berusaha untuk mengontrol sepenuhnya; (6) perhatikan interaksi antara obat; (7) individualisasi pengobatan. 1 . Depresi Saat ini, inhibitor reuptake hidroksitriptamin selektif 5 lebih umum digunakan pada orang tua, termasuk fluoxetine (Prozac), paroxetine (Sylocet), citalopram, sertraline, dan sebagainya. 2, kecemasan Benzodiazepin efektif dalam meningkatkan kecemasan (misalnya, Valium, Lola, dll.), tetapi resistensi dan ketergantungan obat dapat terjadi karena penggunaan jangka panjang dari obat-obatan tersebut, aplikasi klinis dari obat-obatan tersebut untuk pengobatan kecemasan harus menjadi agen kerja pendek, dan pengobatan terpanjang tidak lebih dari 4 minggu atau aplikasi intermiten, dan juga dapat diterapkan pada saat yang sama dengan inhibitor reuptake hidroksitriptamin selektif 5 seperti paroxetine, cetioplan, dll., yang akan memiliki efek dalam 2 minggu atau lebih. Setelah itu obat penenang dihentikan. Untuk gangguan teror atau kepanikan, inhibitor reuptake hidroksitriptamin selektif 5 dapat dicoba. Halusinasi, delusi, agitasi, agresi, dan gejala psikotik lainnya sering diobati dengan antipsikotik atipikal, termasuk risperidone, olanzapine, dan Seroquel. Secara klinis, dosis yang lebih kecil harus digunakan sebanyak mungkin.