Apa konsekuensi negatif strabismus pada anak-anak?

  Strabismus adalah penyakit mata yang umum terjadi pada anak-anak. Orang tua perlu mengetahui lebih banyak tentang pencegahan dan pengobatan. Strabismus secara klinis dibagi ke dalam berbagai kategori. Dari segi onset, strabismus ini dibagi menjadi strabismus infantil kongenital dan strabismus yang didapat. Dari segi sifat strabismus, dibagi menjadi strabismus internal, strabismus eksternal, strabismus ke atas dan ke bawah, dll. Dari segi penyebabnya, dibagi menjadi strabismus regulasi, strabismus paralitik, dan dari segi waktu munculnya strabismus, dibagi menjadi strabismus intermiten, strabismus konstan, dll. Strabismus adalah penyakit mata yang sangat kompleks pada anak-anak, dan diagnosis serta perawatannya rumit.  Bahaya pertama dan terpenting bagi anak-anak penderita strabismus adalah efeknya pada penampilan mereka, yang merupakan motivasi utama bagi pasien untuk mencari pertolongan medis. Beberapa anak dengan strabismus memiliki posisi kepala yang tidak normal seperti kepala miring atau wajah menyamping. Ketika salah satu mata melihat lurus ke arah target, mata yang lain dimiringkan ke samping, membuat orang lain terlihat tidak nyaman dan mempengaruhi kesan yang dibuat pasien pada orang lain. Kepala miring dalam jangka panjang dapat mempengaruhi perkembangan normal wajah dan tulang belakang leher, menyebabkan asimetri pada kedua sisi wajah atau leher, dan juga dapat mempengaruhi perkembangan tulang di seluruh tubuh.  Yang lebih penting lagi, strabismus mempengaruhi fungsi visual kedua mata, dan pada kasus yang parah, tidak ada stereopsis yang sempurna. Stereopsis adalah fungsi visual tingkat lanjut yang hanya dimiliki oleh manusia dan hewan yang lebih tinggi, dan merupakan salah satu prasyarat bagi manusia untuk melakukan pekerjaan yang baik. Tanpa penglihatan stereo yang baik, objek apa pun akan terlihat sebagai permukaan datar tanpa kedalaman atau jarak. Oleh karena itu, anak-anak yang tidak memiliki penglihatan binokular yang normal, tidak akan dapat melakukan pekerjaan yang memerlukan manipulasi halus, seperti kedirgantaraan, penerbangan, eksplorasi, pemetaan, mengemudi, dll., dan akan sangat dibatasi dalam studi dan pekerjaan mereka.  Mayoritas anak dengan strabismus juga menderita ambliopia, yang merupakan bahaya utama strabismus. Akibat tatapan jangka panjang pada satu mata, mata yang lain akan menderita kehilangan penglihatan atau stagnasi perkembangan, dan di kemudian hari, bahkan dengan kacamata yang sesuai, penglihatan tidak akan normal.