Contoh kasus: Kehidupan Claire sering kali kacau dan tidak stabil. Dia memotong rambutnya pendek dan tidak terawat. Dia mengatakan bahwa ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginannya, dia akan memotong rambutnya dengan keras untuk membantu mengisi kekosongan. Belakangan saya tahu bahwa dia sering melukai dirinya sendiri. Kemudian, dia dirawat di rumah sakit jiwa karena dia mengembangkan kecenderungan bunuh diri. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang dengan gangguan kepribadian borderline membentuk sekitar 1 hingga 3 persen dari populasi umum dan merupakan jenis gangguan kepribadian yang paling umum dalam praktik klinis. Hal ini dimulai pada awal masa dewasa dan ditandai dengan ketidakstabilan emosi yang ditandai, hubungan interpersonal yang sangat tidak stabil, impulsif dan merusak diri sendiri, perilaku bunuh diri, dan persepsi diri yang membingungkan, serta kadang-kadang sementara, gagasan paranoid yang terkait dengan stres psikologis atau gejala disosiatif yang parah. Sebuah penelitian yang berkembang sekarang menegaskan bahwa gangguan kepribadian borderline adalah hasil dari interaksi faktor genetik dengan faktor lingkungan keluarga dan sosial. Aliran psikoanalitik memberikan penekanan khusus pada perkembangan psikologis yang buruk akibat masalah dalam hubungan ibu-anak selama masa kanak-kanak awal. Jika ibu tidak memahami dengan benar dan menanggapi dengan tepat makna yang diungkapkan oleh perilaku dan ucapan anak, dan tidak menyediakan lingkungan yang stabil dan penuh kasih sayang bagi anak saat ia tumbuh dewasa, anak tidak akan secara bertahap mengembangkan rasa pemantauan diri internal dan harga diri. Tanpa rasa diri yang stabil di masa dewasa, anak akan terus mencari perlindungan eksternal, menjadi ‘sangat kelaparan secara emosional’ dan ‘berjalan ke dalam kehidupan dengan tali pusar di tangannya’. Selain itu, lebih banyak penelitian telah menemukan bahwa gangguan kepribadian borderline adalah konsekuensi dari trauma awal, seperti kehilangan dua orang tua pada usia dini dan pelecehan fisik, terutama pada wanita. Setelah diagnosis gangguan kepribadian borderline ditegakkan, gangguan ini harus diobati secara agresif, dengan prinsip dasar pengobatan adalah psikoterapi sebagai pengobatan utama dan obat-obatan sebagai pengobatan sekunder. Perawatan psikologis meliputi terapi analitis, terapi kelompok, terapi keluarga, terapi perilaku diskriminatif dan terapi reintegrasi sosial. Fokus utama terapi ini adalah membantu mereka belajar mengatasi tekanan psikologis yang menyebabkan berbagai reaksi yang merugikan. Pasien bertemu setiap minggu untuk belajar bagaimana mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan suasana hati yang buruk dan untuk mengatur emosi mereka. Pengobatan yang tepat juga diperlukan apabila pasien menunjukkan kecemasan yang lebih parah, suasana hati yang tertekan, gangguan tidur, perilaku impulsif dan gejala seperti psikotik. Penelitian lain telah menunjukkan pentingnya perawatan psikososial dan reintegrasi ke dalam pekerjaan agar orang dengan gangguan kepribadian borderline dapat melanjutkan peran sosial mereka.