Studi epidemiologi telah menunjukkan bahwa tumor saluran pencernaan termasuk yang paling sensitif terhadap perbaikan pola makan. Mekanisme karsinogenesis diet terbagi dalam beberapa kategori: kerusakan DNA langsung (misalnya nitrit), aktivasi atau penghambatan sitokrom (misalnya alkohol), aktivasi karsinogen (misalnya makanan yang diasinkan), sitotoksisitas langsung (misalnya mikotoksin), kerusakan oksidatif (misalnya lemak jenuh), perubahan fisiologi (misalnya nasi, serat makanan) dan efek hormonal (misalnya fitoestrogen). Faktor-faktor risiko berikut ini telah diidentifikasi oleh penelitian sebagai penyebab tumor pencernaan. Faktor risiko pertama: Nitrosamin Berbagai nitrosamin dapat menyebabkan penyakit seperti kanker kerongkongan dan lambung pada hewan. Nitrosamin dalam makanan yang tertelan (misalnya asinan kubis, makanan yang dipanggang) disintesis dengan mudah dari amina dan nitrit dalam kondisi asam di dalam perut, terutama ketika asupan vitamin C tidak memadai. Pada saat yang sama, nitrit mudah dibentuk dengan amina di dalam lambung pada pH 1 hingga 4, yang secara langsung dapat menginduksi tumor di dalam lambung tanpa aktivasi metabolisme. Hidrokarbon aromatik polisiklik juga diproduksi ketika ikan dipanggang, yang meningkatkan kejadian kanker perut. Faktor Risiko 2: Racun Jamur Jamur tertentu dan metabolitnya yang ditemukan dalam biji-bijian, asinan kubis, dan makanan berjamur merupakan faktor risiko penting untuk kanker kerongkongan dan lambung. Jamur ini (misalnya aflatoksin) tidak hanya mereduksi nitrat menjadi nitrit, tetapi juga memecah protein, meningkatkan jumlah amina dalam makanan, dan meningkatkan sintesis nitrosamin. Faktor risiko 3: Diet tinggi garam, lemak dan kolesterol Mengonsumsi lemak jenuh dan garam tinggi dalam jumlah besar (ikan asin, daging yang diawetkan, dll.) dapat menimbulkan korosi pada mukosa lambung, merusak penghalang mukosa lambung, dan meningkatkan kejadian kanker lambung. Efek karsinogenik dari kolesterol dan lemak tinggi dapat diperantarai melalui asam empedu. Diet tinggi lemak dapat merangsang sekresi dan ekskresi asam empedu dan kolesterol, yang mendorong perkembangan kanker kolorektal. Faktor Risiko 4: Iritasi makanan Insiden tumor pencernaan meningkat akibat iritasi fisik dan kimiawi kronis pada mukosa esofagus, kerusakan mekanis pada mukosa lambung, dan gangguan sekresi asam lambung yang disebabkan oleh makanan yang kasar, makanan yang terlalu panas, makan berlebihan, dan makanan yang tidak teratur. Faktor Risiko 5: Malnutrisi dan Defisiensi Mikronutrien Survei epidemiologi menunjukkan bahwa rendahnya kadar molibdenum, tembaga, boron, seng, magnesium, dan zat besi dalam makanan, air minum, dan tanah mungkin secara tidak langsung berkaitan dengan terjadinya kanker kerongkongan. Molibdenum adalah komponen penting dari enzim oksidase dan nitrat reduktase tertentu dan kekurangan molibdenum dapat menyebabkan penumpukan nitrat dalam makanan. Sebuah kelompok peneliti menyelidiki hubungan antara serum vitamin A dan kejadian kanker lambung pada 97 pasangan kasus-kontrol dan menemukan bahwa kadar vitamin A secara signifikan lebih rendah pada kelompok kanker lambung daripada kelompok kontrol, dan bahwa ada hubungan yang signifikan bergantung pada dosis antara kadar vitamin A dan tingkat risiko kanker lambung. Dalam sebuah survei terhadap 600 pasien berusia 35-64 tahun dengan hiperplasia usus mukosa lambung di daerah dengan insiden kanker lambung yang tinggi di Cina, kadar vitamin C, beta-C dan vitamin E dalam darah secara signifikan lebih rendah. Faktor risiko enam: konsumsi alkohol Epidemiologi menemukan bahwa banyak pasien kanker esofagus memiliki riwayat konsumsi alkohol berat. Alkohol dapat bertindak sebagai pelarut karsinogen dan mendorong masuknya karsinogen ke dalam kerongkongan, menyebabkan kerusakan pada mukosa makanan dan menciptakan kondisi untuk berkembangnya kanker kerongkongan. Faktor Risiko 7: Merokok Bahan kimia dalam tembakau tidak hanya berkaitan dengan kanker esofagus, tetapi juga dapat meningkatkan kejadian kanker perut. Percobaan pada hewan telah membuktikan bahwa asap tembakau mengandung berbagai zat karsinogenik yang spesifik untuk organ pankreas. Kedua, nikotin dalam tembakau mendorong pelepasan katekolamin dalam tubuh, yang menyebabkan peningkatan kadar kolesterol darah secara signifikan. Dalam beberapa hal, hiperlipidemia dapat menyebabkan kanker pankreas. Empat Cara Mencegah Tumor Pencernaan Metode Pencegahan 1: Bumbu dan Teh Penelitian telah menunjukkan bahwa bawang putih menghambat sintesis N-etilnitrosamin. Konsumsi bawang putih dapat meningkatkan fungsi sekresi asam lambung. Bawang putih memiliki efek bakterisidal terhadap bakteri, terutama HP. Kompleks yang mengandung sulfur dalam bawang putih melindungi DNA sel epitel mamalia, dan tiosulfat dalam bawang putih menghambat pertumbuhan HP. Bawang putih juga kaya akan flavonol (terutama tetrahidroksiflavonoid) yang membantu menghilangkan karsinogen. Konsumsi teh hijau dapat mencegah banyak tumor usus. EGCG (gallocatechin gallate), komponen utama teh hijau, memiliki beberapa mekanisme kerja, seperti efek antioksidan intraseluler, penghambatan pembentukan karsinogen dan angiogenesis dan proliferasi sel kanker. Vitamin A: Vitamin A adalah antioksidan dan meningkatkan lalu lintas antar sel, serta meningkatkan fungsi pertahanan sel epitel dan melindungi selaput lendir untuk membantu pemulihan. Memberi hewan diet tinggi vitamin A secara signifikan dapat menghambat efek pemicu kanker dari DMH dan aflatoksin B. Penelitian juga menunjukkan bahwa karotenoid memiliki efek anti-kanker yang lebih kuat. Makanan yang kaya akan vitamin A meliputi: hati babi, hati bebek, kuning telur bebek, hati ayam, brokoli, wortel (merah), dll. 2. Asam folat: Asam folat terdiri dari asam glutamat, asam para-aminobenzoat dan kitosan; asam folat terutama terlibat dalam proses metilasi SAM untuk mempertahankan kondisi metilasi, dalam regulasi gen dan penghambatan ekspresi onkogen. Sebuah studi kasus-kontrol di Meksiko menunjukkan bahwa asam folat mengurangi kejadian kanker jenis gastrointestinal. Asam folat banyak ditemukan pada makanan hewani dan nabati, seperti: hati babi, daging sapi, asparagus, sayuran hijau, jeruk, stroberi, dll. 3 . Vitamin C: Vitamin C adalah antioksidan yang dapat mengais radikal bebas, dan dapat merangsang sistem kekebalan tubuh dan mengaktifkan lalu lintas persimpangan celah melalui retinol dan asam vitamin A, mempertahankan keadaan normal diferensiasi sel, menghambat pembentukan nitrosamin dan meningkatkan detoksifikasi hati. Telah dibuktikan melalui eksperimen bahwa vitamin C memang dapat mencegah pembentukan radikal N-nitroso-radikal, suatu karsinogen di dalam perut, sehingga mengurangi risiko kanker perut. Makanan dengan kandungan vitamin C yang tinggi antara lain: kurma asam, kurma segar, kiwi, alfalfa, lobak jumbai (putih), kangkung, dll. 4. Vitamin D: Penelitian menunjukkan bahwa vitamin D merupakan faktor penting dalam mencegah perubahan ganas pada sel epitel usus besar dan mengatur pertumbuhan serta diferensiasinya. Vitamin D terutama diperoleh melalui daging, kuning telur dan paparan sinar matahari, sebagian besar makanan tidak mengandung vitamin D. 5, vitamin E: Selain antioksidan untuk menghambat pembentukan radikal bebas, vitamin E juga dapat mencegah transformasi ganas atau proliferasi sel yang berlebihan sebelum dan sesudah mutasi genetik. Minyak nabati adalah sumber utama vitamin E. Telur, daging, buah-buahan dan sayuran mengandung lebih sedikit. 6, selenium: selenium dapat mengubah metabolisme dan detoksifikasi agen karsinogenik, dan dapat mencegah kerusakan DNA dengan menghambat proses oksidasi penghambat glutathione peroksidase seperti DMH dan peroksidasi lipid, sehingga menjaga integritas struktural dan fungsional membran sel. Meningkatkan kadar selenium dalam darah dapat meningkatkan status kekebalan dan fungsi antioksidan tubuh, sehingga membantu meningkatkan fungsi anti-kanker tubuh. Metode Pencegahan III: Lipid Asam lunosilikat dalam minyak kelapa dapat menghambat pertumbuhan H. pylori, sehingga minyak kelapa dapat memperkuat ekosistem mukosa usus. Metode pencegahan 4: Serat makanan Serat makanan yang tinggi secara signifikan menghambat efek karsinogenik azomethine (AOX) pada usus besar. Serat tanaman sereal memiliki efek pembersihan yang kuat terhadap nitrosamin dalam lingkungan asam, yang secara signifikan mengurangi konsentrasi nitrit dalam perut. Selain itu, fitoestrogen, kompleks fenolik, anti-pati dan oligofruktosa dalam tanaman memiliki komponen anti-tumor. Kanker sering kali membutuhkan waktu beberapa tahun untuk berkembang dan disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor. Kebiasaan gaya hidup yang baik dan diet seimbang adalah cara terbaik untuk mencegah kanker.