Apa yang harus dimakan oleh penderita sindrom iritasi usus besar?

  Berikut ini adalah beberapa rekomendasi diet yang lebih meyakinkan dari penelitian saat ini tentang apa yang dapat dimakan oleh penderita sindrom iritasi usus besar.  Serat makanan adalah komponen makanan polisakarida yang tidak mudah dicerna oleh enzim pencernaan, terutama dari jaringan dinding sel tanaman, termasuk selulosa, hemiselulosa, pektin dan resin. Ini tidak dapat diserap dan dicerna di usus kecil tubuh, tetapi dapat difermentasi sebagian atau seluruhnya di usus besar. Serat tidak larut dapat meningkatkan volume feses, mengurangi waktu transmisi usus dan meningkatkan jumlah ekskresi; serat larut dapat berpartisipasi dalam proses fermentasi usus, mengurangi nilai pH usus besar dan memiliki peran dalam mengatur flora usus. Untuk pasien sindrom iritasi usus besar tipe konstipasi, mengonsumsi oat dan biji rami dapat memperbaiki gejala konstipasi dan ketidaknyamanan perut.  2, diet rendah karbohidrat rantai pendek Karbohidrat rantai pendek seperti oligosakarida fermentasi, monosakarida, disakarida, poliol. Komponen-komponen ini sulit diserap dalam usus halus dan dapat meningkatkan tekanan osmotik dalam usus besar dan menyebabkan ketidaknyamanan gastrointestinal akibat fermentasi bakteri dalam usus besar, sehingga makanan tinggi karbohidrat rantai pendek perlu dihindari. Makanan yang direkomendasikan rendah karbohidrat rantai pendek adalah: anggur, pisang, jeruk, jeruk keprok, stroberi, wortel, tomat, mentimun, tauge, selada, kubis, selada, kentang, gandum, soba, tepung jagung, beras. Perlu disebutkan bahwa makanan yang perlu dihindari dan tinggi karbohidrat rantai pendek adalah: asparagus, bit, kembang kol, kacang hitam, kacang panjang, kacang merah, kacang panjang, kacang kedelai, bawang putih, bawang bombay, jamur, apel, mangga, pir, semangka, jelai, bekatul, tepung gandum kasar, berbagai jenis daging olahan seperti sosis, santan, susu bebas laktosa.  Penting untuk dicatat, bahwa prinsip diet rendah karbohidrat rantai pendek adalah mengurangi konsumsi makanan tinggi karbohidrat rantai pendek secara umum, dan bukannya melarang konsumsi makanan tertentu secara sepihak. Secara keseluruhan, hal ini perlu diindividualisasikan menurut kondisi dan gejala spesifik pasien.