Dampak lingkungan bilingual terhadap perkembangan bahasa anak

  Dalam masyarakat saat ini, multibahasa adalah norma dan monolingualisme adalah bukan norma.  Di Kanada, 11,9% populasi berbicara bahasa selain bahasa Inggris dan Prancis di rumah[11] (bahasa Inggris dan Prancis adalah bahasa resmi Kanada); di Toronto, kota dengan populasi pertama terbesar di Kanada, persentase ini meningkat menjadi 31%[12].  Di Amerika Serikat, 21% anak usia sekolah (usia 5-17 tahun) berbicara dalam bahasa selain bahasa Inggris di rumah [13], dan proporsi ini akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang [14].  Di seluruh dunia, diperkirakan jumlah orang yang berbicara bahasa Inggris sebagai bahasa kedua sudah jauh melebihi jumlah penutur asli bahasa Inggris [15], sementara jumlah anak bilingual hampir sama banyaknya dengan jumlah anak monolingual [1].  Mengikuti tren ini, dalam waktu dekat akan semakin banyak anak yang tumbuh dalam lingkungan bilingual atau multibahasa. Terkadang bilingualisme adalah suatu keharusan, seperti dalam kasus anak-anak yang belajar bahasa sebelum sekolah dan mulai belajar bahasa dominan setelah sekolah ketika orang tua mereka tidak mahir dalam bahasa tersebut, dan terkadang bilingualisme adalah sebuah pilihan, karena beberapa orang tua ingin mengekspos anak-anak mereka pada berbagai bahasa sejak usia dini, meskipun mereka sendiri tidak bisa berbahasa kedua. Hal ini karena menguasai beberapa bahasa pada usia dini dapat sangat bermanfaat bagi perkembangan mental dan intelektual anak, serta perkembangan akademis dan karier mereka di masa depan.  Berikut ini adalah beberapa manfaat bilingualisme/multilingualisme bagi perkembangan anak: 1. Anak bilingual memiliki keunggulan yang signifikan dibandingkan anak monolingual dalam hal ketahanan terhadap gangguan dan konsentrasi [16,17]. 2. Anak bilingual memiliki keunggulan yang signifikan dibandingkan anak monolingual dalam hal ketahanan terhadap gangguan dan konsentrasi [16,17]. 3. Anak bilingual memiliki keunggulan yang signifikan dibandingkan anak monolingual dalam hal ketahanan terhadap gangguan dan konsentrasi [16,17].  2. Anak-anak bilingual memiliki kinerja yang lebih baik dan lebih kreatif dalam merencanakan dan memecahkan masalah yang kompleks dibandingkan anak-anak monolingual [1,18].  3. Di antara orang dewasa, degenerasi otak dan kehilangan memori secara signifikan lebih jarang terjadi pada kelompok bilingual/multibahasa daripada kelompok monolingual [16].  4. Beberapa percobaan menunjukkan bahwa timbulnya amnesia pada orang dewasa bilingual tertunda sekitar empat tahun dibandingkan dengan orang dewasa monolingual [1].  5. Orang yang menguasai dua bahasa atau lebih memiliki akses ke berbagai kontak dan sumber daya yang lebih luas [18].  6. Di Kanada, penutur bahasa Inggris dan Prancis mendapatkan penghasilan sekitar 10% lebih banyak daripada penutur bahasa Inggris dan sekitar 40% lebih banyak daripada penutur bahasa Prancis [16].  2. Bilingualisme memberikan keuntungan kognitif dalam hal ‘perhatian’ dan ‘pemecahan masalah’.  Prinsip dasarnya adalah bahwa orang yang bilingual/multilingual memiliki dua atau lebih sistem bahasa yang paralel. Ketika menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan berkomunikasi, pertama-tama mereka memilih bahasa yang paling sesuai dengan konteks dan orang yang mereka ajak bicara, dan kedua, menghambat sistem bahasa lain untuk memastikan bahwa bahasa yang dipilih beroperasi dengan lancar dan tanpa gangguan. Proses ini melatih kemampuan pembicara untuk menekan informasi yang berlebihan dan fokus pada pesan-pesan utama. Latihan jangka panjang ini membuat dwibahasawan secara signifikan lebih baik dalam kedua hal tersebut daripada monolingual. “Tidak ada cara lain untuk melakukan ini, selain membiasakan diri dengan tangan”.  Baru-baru ini York University di Toronto melakukan eksperimen komparatif tentang kemampuan kognitif bayi yang tumbuh di lingkungan bilingual dan monolingual. Subjek penelitian adalah 63 bayi berusia 24 bulan. Salah satu bayi multibahasa terpapar kedua bahasa sejak lahir. Eksperimen ini melibatkan bayi-bayi tersebut untuk mengambil bagian dalam serangkaian tes yang menguji pengendalian diri dan eksekutif pemikiran mereka. Hasil percobaan menunjukkan bahwa meskipun tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kinerja kedua kelompok pada sebagian besar tes, dalam satu tes, TheShapeStroopTest, bayi bilingual berkinerja jauh lebih baik daripada bayi monolingual. Tes ini diberikan kepada dua kelompok bayi yang diperlihatkan serangkaian gambar yang sama dalam urutan acak. Gambar-gambar tersebut adalah buah besar yang berisi buah kecil, misalnya pisang besar yang berisi jeruk kecil. Subjek kemudian diminta untuk menunjukkan buah kecil mana yang ada di jalan. Tes sederhana yang satu ini mengharuskan para bayi untuk dapat menghambat refleks mereka terhadap buah yang besar dan fokus pada buah yang kecil. Hasil percobaan menunjukkan bahwa bayi dalam kelompok bilingual 50% benar dalam tes ini, dibandingkan dengan 31% pada kelompok monolingual. Ini berarti bahwa anak-anak bilingual memiliki setidaknya dua keunggulan kognitif dibandingkan anak-anak monolingual: perhatian selektif dan fleksibilitas kognitif merupakan komponen yang sangat penting dalam fungsi eksekutif, sehingga secara keseluruhan, anak-anak bilingual memiliki kemampuan eksekutif (yaitu pemecahan masalah) yang lebih baik daripada anak-anak monolingual.