Sindrom ovarium polikistik (PCOS) adalah kelainan kompleks yang ditandai oleh kadar androgen yang tinggi dan anovulasi yang persisten. Sindrom ovarium polikistik (PCOS) adalah kelainan metabolisme endokrin yang ditandai dengan peningkatan kadar androgen dan anovulasi yang persisten. I. Kriteria diagnostik: Pada tahun 2003, para ahli dari American Society for Reproductive Medicine dan European Society for Human Reproductive Medicine bersama-sama mengusulkan kriteria diagnostik untuk sindrom ovarium polikistik, yang disebut “kriteria Rotterdam”: dua dari tiga item berikut dapat ditetapkan. (1) ovulasi rendah atau tidak ada ovulasi; (2) pengukuran klinis atau darah dari hiperandrogenisme; (3) gambar USG ovarium polikistik. Obesitas: sekitar setengah dari pasien memiliki gejala ini, yang berhubungan dengan androgen yang berlebihan, peningkatan proporsi testosteron yang tidak terkonjugasi dan stimulasi estrogen jangka panjang. 2. Gangguan menstruasi: menstruasi sporadis setelah menarche, amenorea sekunder, dan disfungsi anovulasi. 3. Pembesaran ovarium bilateral: ukuran ovarium dapat ditentukan dengan pemeriksaan laparoskopi langsung pada ovarium atau dengan pencitraan ultrasonografi. 4. Hirsutisme: Rambut tubuh yang melimpah, rambut kemaluan pria, kulit berminyak, jerawat, akibat akumulasi androgen. 5. Ketidaksuburan: Ketidaksuburan setelah menikah, terutama karena gangguan menstruasi dan anovulasi. 6. Acanthosis nigricans: pigmentasi abu-abu kecokelatan simetris pada kulit di bagian belakang leher, ketiak, di bawah payudara dan pangkal paha, seperti beludru, lesi hiperkeratotik bersisik.