Telah terjadi peningkatan penekanan pada dislokasi glenohumeral awal di luar negeri, dengan banyak ahli bedah menganjurkan operasi artroskopi invasif minimal untuk dislokasi glenohumeral awal yang disebabkan oleh trauma. Bagi pasien domestik, pembedahan untuk dislokasi glenohumeral awal sering kali sulit diterima, sehingga ahli bedah domestik umumnya lebih menyukai perawatan bedah untuk dislokasi glenohumeral berulang akibat trauma. Namun demikian, sebagian pasien dengan dislokasi glenohumeral berulang setelah trauma masih enggan menjalani pembedahan, yang tidak hanya menyebabkan dampak serius pada kehidupan mereka, tetapi juga menyebabkan cacat tulang akibat dislokasi berulang, yang pada akhirnya membuat perawatan bedah menjadi sangat sulit. Tahun lalu kami bertemu dengan seorang wanita berusia 70 tahun yang mengalami dislokasi glenohumeral traumatis beberapa tahun yang lalu dan telah mengalami dislokasi rata-rata sebulan sekali sejak saat itu, setiap kali harus pergi ke rumah sakit untuk reposisi manual. Pada saat presentasi, kami menemukan defek glenoid skafoid dengan kompresi parah pada permukaan artikular lateral posterior kepala humerus pada CT bahu 3D (lihat Gambar 1, 2), membuat pasien tidak cocok untuk operasi jaringan lunak artroskopi saja. Oleh karena itu, kami merekomendasikan bahwa pasien dengan dislokasi glenohumeral berulang traumatis menjalani operasi invasif minimal artroskopi pada waktu yang tepat. Gbr. 1 Fraktur kompresi kepala humerus postero-lateral Gbr. 2 Fraktur kompresi kepala humerus postero-lateral dengan defek glenoid skafoid Gbr. 3, 4 Defek glenoid skafoid yang terisi setelah Lartarjet Gbr. 5 Pengisian jaringan lunak kompresi kepala humerus postero-lateral setelah Remplissage