Neuroma pendengaran adalah tumor jinak yang umum terjadi dan menyumbang 8-10% dari tumor intrakranial, dengan angka kejadian sekitar 1 per 100.000. Lebih dari 95% neuroma pendengaran bersifat unilateral, sedangkan sisanya yang bilateral sebagian besar merupakan neurofibromatosis tipe II, yang merupakan kelainan dominan autosomal. Gejala utama neuroma akustik adalah: gangguan pendengaran (95%), tinitus (70%) dan ataksia (65%). Laju pertumbuhan neuroma pendengaran tidak dapat diprediksi, dan pada 6% pasien, tumor akan menyusut tanpa pengobatan. Namun, beberapa tumor dapat tumbuh hingga 2 cm/tahun, dengan laju pertumbuhan yang khas, yaitu 1 hingga 2 mm/tahun. Presentasi klinis neuroma akustik sangat khas sehingga dilaporkan pada awal perkembangan kedokteran. 1776 Sandifort adalah orang pertama yang melaporkan tentang neuroma akustik, tetapi ia tidak mengenali bahwa tumor tersebut berasal dari saraf pendengaran, ia hanya melaporkan bahwa tumor tersebut terletak di fossa kranial jaringan otak dan menyebabkan gejala klinis yang dijelaskan di atas. Namun, baru pada awal tahun 1900-an, Monakow melakukan pembedahan pertama untuk neuroma akustik. Teknik pembedahan klasik pada saat itu adalah mengambil tumor dengan jari-jari tangan, dan Monakow melaporkan delapan pasien dan lima kematian. Dengan perkembangan instrumen bedah saraf dan pencahayaan, serta kemajuan dalam teknik bedah mikro, pembedahan sekarang dilakukan tidak hanya untuk mengangkat tumor sepenuhnya, tetapi juga untuk mempertahankan saraf wajah (90%) dan pendengaran (50%) tanpa defisit neurologis baru. Langkah selanjutnya dalam pengembangan berfokus pada bagaimana membangun kembali fungsi saraf dan memulihkan disfungsi neurologis yang telah terjadi. Baik pembedahan maupun pengobatan dengan pisau gamma pada neuroma akustik dapat memberikan hasil yang baik. Masa observasi terkadang merupakan pilihan yang baik jika ada kekhawatiran tentang pengobatan. Namun, relatif jelas bahwa ukuran dan lokasi tumor, tekstur tumor (keras atau lunak) dan hematologi (kaya atau tidak) merupakan faktor yang berpengaruh dalam menentukan prognosis pembedahan.