Azotemia reversibel adalah suatu kondisi di mana kadar nitrogen non-protein (NPN) dalam darah, seperti urea, kreatinin, dan asam urat, meningkat secara signifikan, yang disebut azotemia. Pada orang normal, NPN dalam darah adalah 25-35mg%, dengan nitrogen urea sebesar 10-15mg%. Azotemia adalah istilah biokimia yang memiliki pengertian luas dan sempit. Konsep luasnya adalah bahwa setiap nitrogen non-protein seperti nitrogen urea atau kreatinin dalam darah yang berada di luar kisaran normal dapat disebut azotemia. Berbagai penyakit ginjal dapat berlangsung lama, dan gangguan ginjal dapat terjadi pada stadium lanjut, sehingga ekskresi nitrogen dalam darah terganggu dan terakumulasi di dalam darah sebagai akibat dari gagal ginjal. Namun, jika orang normal makan banyak makanan berprotein tinggi dalam waktu singkat, seperti saat liburan Tahun Baru atau saat ia biasanya menghadiri terlalu banyak pesta, meskipun fungsi ginjalnya normal, ia tidak dapat mengeluarkan terlalu banyak nitrogen dengan cepat dalam waktu singkat, dan kemudian akan terjadi azotemia sementara. Pertimbangan diet untuk pasien dengan azotemia reversibel: 1. Diet rendah protein harus menjadi fokus utama untuk pasien dalam fase azotemia dan uremia, dan protein harus terutama protein hewani yang mengandung asam amino esensial, seperti susu, telur, ikan, daging tanpa lemak, dll. Asupan protein harian harus 20 gram. Hal ini tidak hanya memastikan pasokan asam amino esensial, tetapi juga memungkinkan tubuh untuk menggunakan nitrogen non-protein untuk mensintesis asam amino non-esensial jika pasokan protein rendah, sehingga mengurangi azotemia. Makanan harus mudah dicerna dan mengandung vitamin yang cukup, terutama vitamin B, C dan D. Hindari kerusakan mekanis pada saluran pencernaan akibat makanan yang kasar, yang dapat menyebabkan pendarahan pada saluran pencernaan. Untuk pasien dengan nafsu makan yang baik selama periode azotemia, kalori tidak boleh kurang dari 35 kalori per kilogram berat badan, tetapi pada periode uremik hanya akan tergantung pada nafsu makan pasien. Jika pasien memiliki banyak air seni dan edema tidak terlihat jelas, umumnya jangan membatasi jumlah air yang Anda minum. 3, pengisian air dan garam tepat waktu Pasien dengan uremia rentan terhadap dehidrasi dan hiponatremia, terutama pada pasien dengan kehilangan nafsu makan jangka panjang, muntah dan diare. Jika hal ini terjadi, maka harus segera diisi ulang. Namun, perhatian harus diberikan pada toleransi air dan natrium yang buruk pada pasien uremik, sehingga suplementasi tidak boleh berlebihan, agar tidak menyebabkan hipernatremia atau keracunan air. 4. Perhatikan suplementasi kalsium dan kalium Pasien uremik umumnya memiliki kalium darah yang rendah dan rentan terhadap hipokalemia setelah penggunaan diuretik, sehingga mereka dapat makan lebih banyak buah segar dan kalium klorida. Pasien uremik sering kali memiliki kalsium darah yang rendah, sehingga dapat makan lebih banyak makanan dengan kandungan kalsium yang tinggi, seperti ikan, udang, daging dan kaldu tulang, dll.