Apa itu Varikokel

  Varikokel menyumbang 15% dari populasi pria dan 40% dari populasi infertilitas pria. Penelitian klinis dan hewan telah menunjukkan bahwa varikokel memiliki efek merusak pada spermatogenesis. Meskipun mekanismenya perlu dijelaskan lebih lanjut, secara umum diterima bahwa peningkatan suhu testis dan refluks vena adalah salah satu faktor perusak yang penting.  Penilaian klinis varikokel harus melibatkan riwayat yang cermat dan riwayat reproduksi, dan pemeriksaan fisik yang mencakup posisi terlentang dan berdiri. Dalam posisi berdiri, terdapat varises ‘seperti cacing’ yang berbeda, yang biasanya menghilang atau sembuh secara signifikan dalam posisi telentang. Jika dicurigai varises teraba, manuver valsava dilakukan dalam posisi berdiri dan pemeriksaan ultrasonografi vena untuk refluks dilakukan untuk memperjelas diagnosis. Pemeriksaan semen harus dilakukan setidaknya dua kali untuk menilai fungsi reproduksi secara akurat.  Menurut literatur saat ini, varikokel yang teraba (tipe klinis) lebih terkait dengan infertilitas. Tes tambahan seperti ultrasonografi skrotum, termometri skrotum, ultrasonografi Doppler, pemindaian nuklir, dan venografi spermatika dilakukan bila pemeriksaan klinis mencurigakan. Spermovasografi digunakan pada pasien dengan kekambuhan pasca-operasi untuk mengidentifikasi lokasi yang tepat dari refluks darah.