1. Apa itu demam berdarah Ebola? Demam berdarah Ebola adalah infeksi hemoragik akut yang disebabkan oleh virus Ebola yang terjadi pada manusia dan primata non-manusia (monyet, gorila, dan simpanse). 2. Apa sumber infeksi virus Ebola? Primata manusia dan non-manusia yang terinfeksi virus Ebola adalah sumber infeksi untuk penyakit ini. 3. Bagaimana cara penularan demam berdarah Ebola? Penularan melalui kontak adalah cara utama penularan penyakit ini. Penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak dengan berbagai cairan tubuh, sekresi, ekskreta dan kontaminan dari pasien dan hewan yang terinfeksi. 4. Apa saja tanda dan gejala khas infeksi virus Ebola? Tanda-tanda dan gejala yang khas termasuk demam mendadak, rasa tidak enak badan yang ekstrem, nyeri otot, sakit kepala dan sakit tenggorokan, konjungtiva tersumbat, dan denyut nadi yang relatif lambat. Hal ini diikuti oleh mual, muntah, nyeri perut, diare, tinja berlendir atau tinja berdarah, dan ruam kulit. Masa inkubasi penyakit ini adalah 2-21 hari. Hal ini tidak menular selama masa inkubasi dan menular begitu pasien mulai menunjukkan gejala. Infeksi Ebola hanya dapat dikonfirmasi dengan tes laboratorium. 5. Kapan orang harus mencari pertolongan medis? Orang-orang harus segera mencari pertolongan medis ketika mereka berada di daerah di mana demam berdarah Ebola diketahui ada, atau telah melakukan kontak dengan seseorang yang diketahui atau dicurigai menderita demam berdarah Ebola, dan telah mulai mengembangkan gejala. Bila pasien dicurigai mengidap penyakit ini, harus segera dilaporkan ke fasilitas kesehatan terdekat. 6. Bagaimana penyakit ini dapat dicegah? (1) Memiliki pengetahuan tentang penyakit ini; (2) Mengikuti dokumen pedoman yang dikeluarkan oleh otoritas kesehatan nasional; (3) Mendorong dan mendukung orang-orang di lingkungan Anda untuk mencari perawatan medis jika Anda mencurigai mereka terinfeksi Ebola; dan (4) Memakai peralatan pelindung yang sesuai saat menangani kasus Ebola yang fatal. Selain itu, individu harus mengurangi kontak dengan hewan berisiko tinggi yang terinfeksi (misalnya kelelawar buah, monyet, atau kera) di daerah hutan hujan tropis yang terkena dampak. Jika seekor hewan dicurigai terinfeksi, jangan menangani mereka lagi. Produk hewani (darah dan daging) harus dipastikan dimasak sebelum dikonsumsi.