Tanya Jawab Trombosis Vena Dalam

  1. Mengapa ada risiko perdarahan dengan obat antitrombotik?  J: Trombosis disebabkan oleh pembekuan darah, dan obat antitrombotik melelehkan gumpalan darah atau mengubah kemampuan pembekuan darah, sehingga kecil kemungkinannya untuk menggumpal. Dalam istilah awam, trombosis adalah “pembekuan darah” dan antitrombotik adalah “pemecahan darah”, jadi ada risiko pendarahan. Obat yang mengklaim tidak memiliki risiko perdarahan tentu saja bukan obat antitrombotik.  2. Apakah terapi antikoagulan saja bisa efektif?  J: Antikoagulasi adalah prasyarat untuk semua pengobatan. Tujuannya adalah untuk mencegah atau mengurangi penyebaran gumpalan, untuk memberi kesempatan pada sistem trombolitik dalam tubuh untuk melarutkan gumpalan, memberi waktu bagi pembuluh darah untuk bersirkulasi ulang dan memperbaiki, dan untuk menghindari kambuhnya gumpalan. Jika diperlukan efikasi yang lebih baik, ini dilengkapi dengan terapi trombolitik, terapi endovaskular atau pembedahan.  3.Mengapa perlu memeriksa banyak darah untuk mengobati DVT?  J: Penyebab DVT itu kompleks dan beberapa di antaranya menentukan lamanya pengobatan. Selain itu, obat antitrombotik membawa risiko perdarahan dan koagulasi perlu diperiksa sebagaimana mestinya untuk mengurangi terjadinya perdarahan. Selain itu, beberapa penanda trombotik dapat mencerminkan perubahan penyakit. Inilah sebabnya, mengapa tes darah sering diperlukan selama pengobatan.  4.Apa keuntungan dan kerugian dari terapi trombolitik?  J: Keuntungan terapi trombolitik adalah dapat mempercepat pembubaran gumpalan darah, mengurangi kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan efek jangka panjang. Selain itu, pendekatan bedah invasif minimal kontemporer lebih efektif bila kateter dimasukkan langsung ke dalam trombus untuk trombolisis. Namun demikian, terapi trombolitik juga memiliki beberapa kelemahan: (1) peningkatan risiko perdarahan; (2) peningkatan biaya; (3) trombolisis yang diarahkan oleh kateter memerlukan penurunan filter vena cava dan, jika perlu, pemasangan stent untuk mengatasi stenosis vena iliaka, sehingga membuat pengobatan menjadi mahal.  5. Pasien mana yang berisiko tinggi untuk trombolisis antikoagulasi?  J: Pasien-pasien ini termasuk: (1) riwayat operasi besar atau trauma baru-baru ini; (2) gangguan perdarahan; (3) infark serebral baru-baru ini atau pendarahan otak; (4) riwayat operasi sistem saraf pusat baru-baru ini; (5) riwayat trauma baru-baru ini pada sistem saraf pusat; (6) kontrol hipertensi yang tidak stabil; (7) tukak lambung aktif (tukak lambung dan duodenum); (8) gangguan hati dan ginjal yang parah; (9) gangguan fungsi hati yang parah; (10) gangguan fungsi ginjal yang parah. (9) kebutuhan akan agen anti-platelet dosis tinggi.  6 .Bisakah agen anti-platelet mengobati trombosis vena dalam?  J: Tidak ada bukti yang jelas untuk penggunaan agen anti-platelet dalam pengobatan trombosis vena dalam.  7 .Bisakah obat pengaktif stasis darah mengobati DVT?  J: Tidak ada efek antikoagulan yang jelas dari obat pengaktif stasis darah, hanya efek anti-platelet parsial dan peningkatan viskositas darah, yang jauh dari konsep terapi antikoagulan biasa, apalagi efek trombolitik. Sebagian besar studi efikasi pada obat ini telah mengambil perbaikan oedema ekstremitas bawah sebagai kriteria efikasi, yang sangat tidak ilmiah dan tidak mencerminkan hilangnya trombosis.