Perbedaan antara kecemasan dan depresi

  Perbedaan antara kecemasan dan depresi Gejala gangguan kecemasan akut secara klinis bermanifestasi sebagai onset mendadak pada pasien setelah beberapa trauma akut, merasa ketakutan yang tak dapat dijelaskan, panik, berkeringat, tangan pucat dan gemetar. Serangan kecemasan akut bisa berlangsung selama beberapa menit atau jam. Kadang-kadang serangan diikuti oleh perasaan bahwa semuanya kembali normal; di lain waktu, serangan itu membuat orang tersebut dalam keadaan tegang dan cemas bahwa penyakitnya akan kembali. Gangguan kecemasan kronis ditandai dengan palpitasi, iritabilitas dan depresi. Pasien dengan gangguan kecemasan kronis rentan terhadap kegugupan dan mudah tersinggung, dan suara iritasi atau masalah sekecil apa pun dapat menyebabkan mereka kehilangan kesabaran. Pasien dengan gangguan kecemasan memiliki keinginan yang kuat untuk mencari perhatian medis.  Penyebab kecemasan umumnya terkait erat dengan faktor sosial dan kepribadian orang tersebut. Data menunjukkan bahwa di era persaingan yang semakin meningkat, gangguan kecemasan meningkat dengan cepat pada manusia; ciri-ciri kepribadian pasien ini adalah: curiga, penakut, sensitif, acuh tak acuh, kesepian, sangat mengalami diri sendiri, dan tergantung.  Enam manifestasi utama depresi adalah: 1. Berkurangnya minat atau bahkan kehilangan minat: orang dengan berbagai macam hobi dapat dengan mudah diperhatikan oleh orang lain di sekitar mereka begitu mereka mengalami depresi. Namun, meskipun tidak ada hobi, jika tidak ada minat dalam pekerjaan sehari-hari, kenikmatan hidup dan kesenangan keluarga, Anda bisa yakin bahwa ada penurunan minat yang signifikan atau kehilangan minat.  2. Keputusasaan: Pasien merasa bahwa segala sesuatu buruk baginya, bahwa masa depan suram dan tanpa harapan. Sebaliknya, orang normal memiliki harapan untuk masa depan, seperti kemajuan akademis, kesuksesan karier, dan kehidupan yang panjang dan sehat untuk keluarga mereka. Kehilangan harapan untuk masa depan adalah tanda depresi.  3. Rasa tidak berdaya: perasaan ini menyakitkan, terutama bila pasien mengalami kesulitan dalam mengungkapkannya. Banyak pasien yang enggan mencari pertolongan medis, yakin bahwa tidak ada yang bisa dilakukan dokter karena mereka merasa berbeda dari yang lain, seolah-olah mereka telah meninggalkan dunia, jatuh ke lembah yang dalam, bahwa tidak ada yang bisa dilakukan, bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka. Pasien merasa seolah-olah hari-harinya sudah tidak lama lagi dan dia merasa kesepian dan terasing dari orang lain.  4. Penurunan dalam kritik diri: Pasien merasa bahwa dirinya secara praktis tidak mampu melakukan apa pun dan merupakan pemborosan total. Paling tidak, pasien merasa bahwa kemampuan intelektualnya tidak seperti dulu lagi. Sebagian pasien merasakan rasa bersalah yang mendalam atau bahkan rasa bersalah.  5. Kehilangan vitalitas: Pasien merasa bahwa seluruh “pribadinya” telah runtuh, hancur, berantakan. Jelas bahwa ini bukanlah kurangnya kekuatan fisik melainkan hilangnya motivasi mental, dan bahwa pasien perlu didesak atau didorong untuk melakukan apa pun (termasuk perawatan diri), jika tidak, dia tidak ingin bergerak sama sekali. Banyak pasien yang berjuang untuk menenangkan diri, tetapi tidak mampu untuk terus maju. Pasien percaya bahwa dirinya telah menjadi “genangan lumpur yang tidak bisa diangkat.”  6. Ketika Anda melihat pasien depresi, Anda selalu merasa bahwa seluruh dunia kesedihan telah hadir dalam diri pasien. Pasien depresi ingin menjadi kuat dalam hatinya, tetapi karena dia tidak bertahan dalam pengobatan, kondisinya memburuk lagi dan lagi. Depresi itu sendiri adalah penyakit mental yang relatif sulit diobati, dan manifestasi depresi itu kompleks, sehingga harus diobati sebelum terlambat.