Di antara usia dua hingga tiga bulan, seiring dengan perkembangan otak mereka, bayi yang baru lahir secara bertahap mempelajari dua tindakan: pertama, menatap tangan mereka dengan mata dan yang kedua, menghisap jari-jari mereka. Bagi mereka, mengisap jari adalah suatu bentuk belajar dan bermain. Perkembangan dari menghisap dengan canggung pada seluruh tangan hingga menghisap dengan cekatan pada satu jari menunjukkan bahwa bayi jauh lebih mampu mengendalikan perilaku mereka sendiri. Tindakan menghisap jari mendorong gerakan tangan dan mata yang terkoordinasi, serta meletakkan dasar yang kokoh untuk belajar menggenggam mainan secara akurat pada usia 5 bulan. Selain itu, ini adalah periode ketika bayi belajar tentang dunia luar terutama melalui mulut mereka. Bayi percaya bahwa tangan mereka juga merupakan benda di dunia luar, sehingga mereka selalu memasukkannya ke dalam mulut dan menghisapnya untuk memahami benda tersebut. Biasanya, saat bayi mengembangkan gerakannya dengan cepat, mereka belajar duduk, merangkak dan berdiri dengan bebas, dan gerakan jari-jari mereka menjadi lebih halus. Selain itu, orang tua yang cermat akan memperhatikan bahwa anak-anak mereka biasanya sangat tenang dan tidak menangis atau rewel ketika mereka mengisap jari mereka. Bahkan, bayi terkadang menghisap jari mereka untuk menstabilkan diri mereka sendiri, menunjukkan bahwa menghisap jari juga memainkan peran penting dalam perkembangan psikologis mereka. Oleh karena itu, orang tua tidak perlu cemas dengan perilaku mengisap jari, apalagi sampai menghentikannya secara paksa. Jika perilaku ini terlalu sering terjadi, orang tua dapat mengalihkan perhatian bayi mereka dari kebiasaan mengisap jari dengan membelai dan menggoyangkan tangan kecilnya. Yang perlu dilakukan orang tua adalah menjaga kebersihan tangan bayi dan area sekitar mulut dan bibir bayi tetap bersih dan kering agar terhindar dari eksim. Namun, jika anak masih mengisap jarinya secara teratur setelah usia satu tahun atau bahkan pada usia tiga atau empat tahun, hal ini dapat dianggap sebagai perilaku yang buruk dan orang tua harus berhati-hati untuk memahami penyebabnya dan memperbaikinya dengan sabar.