Pada tanggal 16 September, jurnal Gastroenterology menerbitkan secara online Pedoman untuk Pengobatan Farmakologis Sindrom Irritable Bowel, yang dikembangkan oleh American Gastroenterological Association (AGA). Pedoman ini memberikan sembilan rekomendasi untuk pengobatan farmakologis sindrom iritasi usus besar (IBS) berdasarkan bukti penelitian yang ketat untuk pengobatan farmakologis IBS, tetapi pengobatan non-farmakologis, termasuk perubahan pola makan dan gaya hidup, tidak dipertimbangkan. Edisi ini menangkap isi inti dari pedoman dan mengundang Profesor Hou Xiaohua dari Departemen Gastroenterologi, Rumah Sakit Persatuan Tongji Medical College, Universitas Sains dan Teknologi Huazhong untuk berbagi dengan pembaca komentarnya tentang pedoman tersebut.
Pengantar pedoman: Rekomendasi pengobatan obat IBS
Q1. Haruskah linaclotide digunakan pada pasien dengan sindrom iritasi usus besar konstipasi (IBS-C)?
American Gastroenterological Association (AGA) merekomendasikan linaclotide (dibandingkan tanpa terapi obat) pada pasien dengan IBS-C (rekomendasi kuat, bukti berkualitas tinggi).
Q2. Haruskah lubiprostone digunakan pada pasien dengan IBS-C?
AGA merekomendasikan lubiprostone pada pasien dengan IBS-C (lebih baik daripada tidak ada terapi obat) (rekomendasi bersyarat, bukti kualitas sedang).
Q3. Haruskah obat pencahar ringan polietilen glikol (PEG) digunakan pada pasien dengan IBS-C?
AGA merekomendasikan penggunaan obat pencahar ringan (lebih unggul daripada tidak ada terapi obat) pada pasien dengan IBS-C (rekomendasi bersyarat, bukti berkualitas rendah).
Q4. Haruskah rifaximin digunakan pada pasien dengan IBS diare (IBS-D)?
AGA merekomendasikan rifaximin pada pasien dengan IBS-D (lebih unggul daripada tidak ada terapi obat) (rekomendasi bersyarat, bukti kualitas sedang).
Q5. Haruskah alosetron digunakan pada pasien dengan IBS-D?
AGA merekomendasikan penggunaan alosetron pada pasien dengan IBS-D untuk memperbaiki gejala secara keseluruhan (lebih baik daripada tidak ada obat) (rekomendasi bersyarat, bukti kualitas sedang).
Q6. Haruskah loperamid digunakan pada pasien dengan IBS-D?
AGA merekomendasikan loperamide (lebih baik daripada tanpa pengobatan) pada pasien dengan IBS-D (rekomendasi bersyarat, bukti kualitas sangat rendah).
Q7. Haruskah antidepresan trisiklik digunakan pada pasien dengan IBS?
AGA merekomendasikan penggunaan antidepresan trisiklik (lebih baik daripada tanpa pengobatan) pada pasien dengan IBS (rekomendasi bersyarat, bukti berkualitas rendah).
Q8. Haruskah selektif 5-hydroxytryptamine reuptake inhibitor (SSRI) digunakan pada pasien dengan IBS?
AGA tidak merekomendasikan SSRI pada pasien dengan IBS (rekomendasi bersyarat, bukti berkualitas rendah).
Q9. Haruskah antispasmodik digunakan pada pasien dengan IBS?
AGA merekomendasikan penggunaan antispasmodik (lebih baik daripada tidak ada pengobatan) pada pasien dengan IBS (rekomendasi bersyarat, bukti berkualitas rendah).
Komentar ahli: Meningkatkan pengobatan IBS dengan bukti
Dengan percepatan laju kehidupan dan perubahan lingkungan sosial, kejadian sindrom iritasi usus besar (IBS) memiliki kecenderungan untuk meningkat secara bertahap. Karena keragaman dan kompleksitas patogenesis, IBS berulang dan sulit disembuhkan, dan pasien sering mencari perawatan medis dan telah mengurangi kualitas hidup, yang secara serius mempengaruhi kesehatan mental dan fisik mereka.
American Gastroenterological Association (AGA) baru-baru ini merilis pedoman ini tentang pengobatan farmakologis IBS, yang ringkas dan berbasis bukti. Dimulai dari gejala klinis utama IBS dan mengevaluasi efektivitas sembilan obat baru atau lama dalam pengobatan IBS, memberikan dasar yang baik untuk pengobatan farmakologis klinis IBS.
Dua obat pro-sekresi yang direkomendasikan dalam pedoman ini, linaclotide dan lubiprostone, keduanya disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk pengobatan konstipasi kronis dan IBS konstipasi (IBS-C).