Banyak orang berpikir bahwa jika Anda banyak bermimpi, kualitas tidur Anda tidak baik dan malam tanpa mimpi adalah tidur yang terbaik. Jika Anda terbangun saat bermimpi, Anda akan merasa seolah-olah belum tidur. Di masa lalu, obat tidur hanya membuat orang tidur tetapi tidak bermimpi, sehingga pasien sering mengeluh seolah-olah mereka tidak tidur, jadi apakah bermimpi itu perlu atau tidak? Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendapati bahwa jika kita terbangun dari mimpi selama beberapa hari berturut-turut, dan kemudian segera setelah kita tertidur kita langsung bermimpi, apakah perlu bermimpi? Sebuah eksperimen yang menarik pernah dilakukan: ia membandingkan dua kelompok orang yang menggunakan rekaman EEG. Pada kelompok pertama, subjek dibangunkan selama tidur REM (tidur dengan gerakan mata cepat) dan kemudian ditidurkan kembali setelah beberapa menit; pada kelompok lainnya, subjek dibangunkan selama tidur NREM (tidur yang lebih dalam), kedua kelompok dibangunkan pada waktu yang sama sedapat mungkin, tetapi pada periode tidur yang berbeda. Setelah beberapa malam, kelompok pertama secara mengejutkan memiliki lebih banyak tidur REM, dan pada akhir percobaan, ketika mereka diizinkan untuk kembali ke pola tidur sebelumnya, jumlah tidur REM dua kali lebih banyak dari biasanya, sementara kelompok kedua tidak menunjukkan perubahan dalam tidur REM mereka di EEG baik selama gairah atau setelah mereka kembali tidur normal. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok pertama selalu terbangun dari tidur saat bermimpi, kehilangan “mimpi”, sehingga tidur REM meningkat dan menebus “mimpi” tersebut. Kelompok kedua dibangunkan dalam keadaan tidak bermimpi, mereka tidak kehilangan “mimpi” (tidur REM) dan tidak perlu mengarang “mimpi”. Eksperimen ini menegaskan perlunya bermimpi dan bahwa 4-6 mimpi per malam diperlukan.