Mimpi sebagai penolong ingatan

Kita sering mendapati bahwa apa yang telah kita baca di malam hari diingat lebih jelas dan kuat setelah tidur malam. Mungkinkah tidur adalah tangan ajaib yang membantu kita mengingat? Otak manusia harus melalui serangkaian proses untuk menyimpan informasi memori yang diperlukan, dan mimpi adalah perwujudan dari salah satu proses utama. Seorang ilmuwan, Crick, telah mengembangkan gagasan bahwa “mimpi adalah pengatur memori”. Otak manusia mampu memproses sejumlah besar informasi yang tidak dapat diproses oleh komputer elektronik, membuang informasi yang tidak perlu dan mengatur potongan-potongan memori. “Mimpi hanyalah sebuah cara bagi tubuh manusia untuk membersihkan file mental otak.” Hasilnya adalah sejumlah potongan-potongan pemikiran yang terfragmentasi yang dimasukkan ke dalam lemari penyimpanan dan diletakkan di tempat yang tepat,” jelas Stiegold. Kita bermimpi dengan mata yang berkedip saat tidur, dan mimpi-mimpi aneh, cacat, dan terfragmentasi yang kita alami di larut malam adalah apa yang otak kita cari dalam ‘indeks bersama’.” Mimpi bertindak seperti sekretaris pribadi kita, mengatur ingatan kita secara efektif. Freud menganjurkan bahwa kenangan nyata, peristiwa dan pengalaman emosional yang terkait harus ‘dipadatkan’ dan ‘diganti’ sebelum dapat memasuki dunia mimpi. Sumber ingatan bervariasi sesuai dengan periode tidur. Komponen memori situasional yang membentuk elemen-elemen mimpi lebih mungkin berasal dari permulaan tidur atau terbangun setelah tidur gelombang lambat, sementara sumber daya memori semantik biasa lebih banyak dan jelas selama tidur gelombang cepat. Jika tidak demikian, otak akan menjadi ember informasi yang sama sekali tidak dapat dibedakan, seperti robot yang tidak berfungsi yang membuat kesalahan penilaian dalam melakukan sesuatu.