Berjalan sambil tidur, juga dikenal sebagai somnambulisme, adalah gangguan tidur yang ditandai dengan serangkaian perilaku kompleks yang dimulai saat tidur gelombang lambat dan menyebabkan berjalan saat tidur. Insiden gangguan ini berkisar antara 1-5% pada populasi umum dan lebih sering terjadi pada anak-anak, dengan permulaan gangguan yang terjadi kapan saja setelah anak dapat berjalan. Manifestasi utamanya adalah: duduk dalam tidur, berjalan di lantai selama lebih dari beberapa menit, atau bahkan dengan liar berusaha “melarikan diri”, sulit dibangunkan, kembali ke tempat tidur atau berbaring di lantai untuk tidur setelah serangan, sering disertai dengan periode singkat kesadaran dan disorientasi saat bangun tidur, beberapa menit kemudian kembali normal, biasanya tidak dapat mengingat kembali setelah bangun tidur, kehidupan sehari-hari dan sosial. Tidak ada dampak yang signifikan pada kehidupan sehari-hari atau fungsi sosial. Etiologi: Penyakit ini berhubungan dengan faktor genetik, perkembangan saraf dan psikososial. Jika salah satu orang tua memiliki kelainan ini, kejadiannya adalah 45%, dan jika kedua orang tua memiliki riwayat kelainan ini, kejadiannya adalah 60%. Penyakit ini dapat sering terjadi dalam jangka waktu tertentu jika anak mengalami trauma psikologis yang parah. Demam inflamasi dan kurang tidur juga dapat meningkatkan frekuensi episode tidur sambil berjalan. Obat-obatan tertentu seperti litium dan fenadin dapat memperparah serangan. Pemeriksaan tambahan: Pada anak-anak dengan episode yang sering, polisomnografi, pemantauan hormon tiroid, elektroensefalografi, pencitraan tengkorak, dan pemeriksaan psikologis harus dilakukan. Diagnosis: Diagnosis penyakit ini didasarkan pada gejala-gejala seperti bangun dan berjalan saat tidur pada episode yang berulang dan tidak adanya penyakit organik. Pengobatan: Penyakit ini sering kali menghilang secara bertahap seiring dengan bertambahnya usia anak. Jika jumlah serangan rendah, biasanya tidak diperlukan pengobatan. Untuk serangan yang sering terjadi (satu serangan per minggu atau lebih), pengobatan seperti obat penenang dapat diberikan. Tindakan pencegahan: Jangan mencoba membangunkan anak selama serangan, berhati-hatilah untuk membimbingnya kembali ke tempat tidur dan jangan beritahu atau memarahinya keesokan harinya; jika serangan terkait dengan psikologis, berhati-hatilah untuk memperjelas efek psikologis.