Kurang tidur diketahui memiliki konsekuensi berbahaya bagi sistem kekebalan tubuh dan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes. Para peneliti Finlandia telah mempelajari hubungan yang lebih dalam antara kurang tidur dan sistem kekebalan tubuh dan telah mengidentifikasi gen yang merespons paling kuat. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal PLOS One. Untuk penelitian ini, para peneliti di University of Helsinki menargetkan sekelompok pria muda untuk membatasi waktu tidur mereka menjadi empat jam per malam selama satu minggu. Para peneliti menganalisis sampel darah dari subjek sebelum dan sesudah uji coba dan membandingkannya dengan pria lain yang tidur secara konsisten selama delapan jam semalam. Penulis studi Vilma Aho mengatakan bahwa kurang tidur menyebabkan peningkatan ekspresi banyak gen yang terkait dengan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, terjadi peningkatan aktivitas sel B, yang menghasilkan antigen penting yang berkontribusi pada respons pertahanan tubuh, serta antigen untuk asma dan alergi. Aho menambahkan: “Hal ini dapat menjelaskan hasil yang diamati sebelumnya terkait dengan peningkatan gejala asma pada kondisi kurang tidur”. Selain itu, ekspresi interleukin tertentu yang mendorong respons inflamasi dan reseptor terkait seperti reseptor Toll-like juga meningkat. Aho menyimpulkan bahwa kurang tidur dapat memengaruhi banyak aspek sistem kekebalan tubuh, dan beberapa perubahan ini mungkin berlangsung lama, sehingga meningkatkan risiko terkena penyakit tertentu.