Mimpi buruk adalah gangguan tidur di mana mimpi dengan konten yang mengerikan dan menyebabkan kecemasan dan ketakutan adalah manifestasi utama. Mimpi buruk sering terjadi pada anak-anak dan dapat terjadi pada usia berapa pun, paling sering pada anak usia prasekolah dan usia sekolah. Mimpi buruk terutama terkait dengan stres, gangguan emosional dan rangsangan yang merugikan, tetapi beberapa juga merupakan reaksi spesifik terhadap penyakit fisik. Faktor psikologis: Mimpi buruk yang paling umum adalah mimpi traumatis, yaitu mimpi di mana si pemimpi mengalami pengalaman yang lebih menyeramkan atau trauma serius yang sering muncul kembali dalam mimpi. Faktor lingkungan: stres dan kegembiraan yang berlebihan sebelum tidur, seperti anak yang tidur di lingkungan yang asing untuk pertama kalinya jauh dari orang tua, berbagai konflik internal dan kecemasan dapat memicu gangguan ini, serta mendengarkan cerita horor dan menonton film horor sebelum tidur. Penyakit fisik: penyakit fisik seperti sakit kepala dan demam, kekurangan oksigen atau suplai darah ke otak karena jantung yang buruk, atau lesi pada organ yang tidak menimbulkan gejala dapat bermanifestasi dalam bentuk mimpi buruk. Faktor obat: Obat-obatan seperti antidepresan, obat penenang barbiturat, dan anestesi memiliki efek samping yang dapat menyebabkan mimpi buruk. Obat-obatan secara tidak langsung dapat mengubah keseimbangan bahan kimia tertentu di otak, yang pada gilirannya dapat memicu mimpi buruk. Gangguan tidur: Mimpi buruk yang disertai dengan gerakan kasar seperti meninju, menendang, berguling, dan berteriak adalah manifestasi umum dari gangguan perilaku tidur, yang sering terjadi pada penyakit Parkinson atau gangguan neurodegeneratif lainnya. Bermimpi adalah bagian dari tidur normal, dan mimpi buruk lebih sering disebabkan oleh akumulasi rangsangan mental dan emosional.