Perkembangan ankylosing spondylitis memang berkaitan erat dengan antigen HLA-B27. Tingkat kepositifan antigen HLA-B27 pada pasien dengan ankylosing spondylitis setinggi 90-96%. Namun demikian, kepositifan antigen HLA-B27 saja bukanlah tes “diagnostik” atau “konfirmasi”. Kepositifan antigen HLA-B27 pada populasi umum adalah sekitar 4-8%, dan sekitar 80% pasien positif HLA-B27 tidak mengembangkan ankylosing spondylitis, sementara sekitar 10% pasien dengan ankylosing spondylitis adalah antigen HLA-B27 negatif. Pasien antigen HLA-B27 negatif tidak dikecualikan dari ankylosing spondylitis. Antigen HLA-B27 yang positif tidak selalu berarti bahwa diagnosis ankylosing spondylitis telah dibuat, tetapi harus dikombinasikan dengan gejala klinis, tanda dan gejala, serta pemeriksaan sinar-X dan CT pada sendi sakroiliaka. Meskipun ada korelasi yang kuat antara antigen HLA-B27 dan ankylosing spondylitis, namun antigen HLA-B27 yang positif tidak boleh diartikan bahwa pasien menderita ankylosing spondylitis. Karena kemungkinan mengembangkan ankylosing spondylitis pada seseorang dengan antigen HLA-B27 positif adalah sekitar 10-20%, maka akan salah jika kita berasumsi secara membabi buta, bahwa antigen HLA-B27 positif berarti orang tersebut memiliki ankylosing spondylitis. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa antigen HLA-B27 merupakan faktor penting tetapi bukan satu-satunya faktor dalam perkembangan ankylosing spondylitis. Dalam kasus klinis yang dicurigai atau atipikal, antigen HLA-B27 positif hanya dapat menyarankan bahwa kemungkinan ankylosing spondylitis harus sangat dipertimbangkan, tetapi tidak menetapkan bahwa ankylosing spondylitis pasti ada. Diagnosis dapat dikonfirmasi lebih lanjut dengan menggabungkan gejala, tanda, dan tes relevan lainnya dari pasien.