Staf medis di Rumah Sakit Anak Comer University of Chicago meneliti hubungan epidemiologis antara gangguan tidur dan perkembangan kanker, dengan temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Cancer Research. Selama periode tidur normal tikus, para peneliti menjalankan sikat bermotor yang tenang melalui kandang mereka setiap dua menit, memaksa mereka untuk bangun dan kemudian membiarkan mereka tidur lagi. Kelompok tikus lainnya berfungsi sebagai kelompok kontrol, dan tidur mereka tidak terganggu. Setelah tujuh hari berada di lingkungan ini, kedua kelompok tikus disuntik dengan sel tumor. Dalam waktu 9-12 hari, semua tikus menghasilkan tumor yang terlihat. Para peneliti mengevaluasi mereka empat minggu setelah inokulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumor dua kali lebih besar pada tikus yang mengalami gangguan tidur dibandingkan dengan tikus yang tidurnya normal. Tes laboratorium selanjutnya menemukan bahwa ketika sel-sel tumor ditanamkan pada otot paha tikus, tumor lebih agresif pada kelompok yang mengalami gangguan tidur. Para peneliti menemukan bahwa sering terbangun saat tidur meningkatkan risiko pertumbuhan kanker dan pertumbuhan tumor yang agresif, dan bahkan menekan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk mendeteksi lesi prakanker secara dini. Para peneliti percaya bahwa tidur yang terfragmentasi mengubah cara sistem kekebalan tubuh memproses kanker, sehingga membuat penyakit ini menjadi lebih agresif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk menghindari kanker, orang harus meningkatkan kualitas tidur mereka.