Tiga ahli reumatologi baru-baru ini dianugerahi Crafoord Prize 2013 di Swedia, hadiah sebesar 4 juta kronor ($614.000), karena menemukan gen risiko yang menghubungkan merokok dan artritis reumatoid. Crafoord Prize didirikan pada tahun 1980 oleh Holger Crafoord, penemu ginjal buatan, dan istrinya Anna Greta Crafoord, dan dikelola oleh Royal Swedish Academy of Sciences. Nobel ini didirikan untuk mempromosikan dan menghargai penelitian fundamental dalam bidang ilmiah yang selama ini tidak mendapatkan Hadiah Nobel. Bidang-bidang ini adalah matematika, ilmu bumi, ilmu biologi dan astronomi. Hanya satu hadiah yang diberikan setiap tahun. Urutan DNA unik yang ditemukan oleh ketiga ilmuwan artritis reumatoid, ketika dipengaruhi oleh merokok, secara signifikan meningkatkan risiko artritis reumatoid pada manusia. Kembali pada tahun 1980-an, Peter Gregersen dan Robert Winchester mulai menguji perbedaan gen antigen leukosit manusia. Penelitian saat ini mengetahui bahwa gen antigen leukosit ini sangat terkait dengan penyakit autoimun. Teori menunjukkan bahwa gen-gen risiko ini diduga meningkatkan risiko artritis reumatoid dengan mengendalikan produksi antigen leukosit manusia (HLA). HLAs ini membentuk struktur kantong pada permukaan sel yang dapat menjebak beberapa molekul (seperti virus) di dalamnya. Sel-sel kekebalan tubuh mendeteksi struktur saku ini untuk membuang sel-sel yang tidak sehat. Struktur kantong yang unik dari beberapa HLA pada permukaan sel menyebabkan sel-sel kekebalan tubuh salah mengidentifikasi mereka dan menghilangkan sel-sel normal, yang menyebabkan artritis reumatoid. Mereka mengidentifikasi urutan lima asam amino yang dimiliki bersama antara varian gen HLA yang meningkatkan risiko artritis reumatoid. Hanya 20 tahun kemudian, penelitian ini membuat terobosan besar lainnya, dengan tim Lars Klareskog menemukan peningkatan 20 hingga 40 kali lipat dalam risiko artritis reumatoid pada populasi Nordik yang mengandung sekuens dan merokok, dibandingkan dengan peningkatan empat kali lipat pada mereka yang mengandung sekuens tetapi tidak merokok. Berdasarkan temuan ini, para ilmuwan percaya bahwa sebagian besar perkembangan artritis reumatoid berasal dari paru-paru. Mereka percaya bahwa protein anti-citrulline terlibat. Temuan ini bisa membantu mengobati artritis reumatoid secara lebih tepat.