Sepuluh rekomendasi EULAR tentang pencitraan sendi dalam pengelolaan RA

  TUJUAN: Untuk membuat rekomendasi pencitraan sendi dalam pengelolaan artritis reumatoid (RA) berdasarkan bukti medis berbasis bukti.  METODE: Kelompok kerja terdiri dari para ahli dari 13 negara, termasuk para ahli di bidang reumatologi, pencitraan dan statistik. Bukti untuk studi diambil dari literatur di MEDLINE, EMBASE dan database Cochrane. Para ahli kelompok kerja membuat sepuluh rekomendasi berdasarkan bukti dari studi yang relevan dan menilai kekuatan rekomendasi menggunakan skor VAS.  HASIL: 10 rekomendasi mencakup diagnosis RA, penentuan peradangan dan kerusakan sendi, penilaian prognostik dan respons terhadap pengobatan, dan termasuk berbagai pemantauan aktivitas penyakit, perkembangan RA dan remisi. Rekomendasinya adalah sebagai berikut: Rekomendasi 1: Ketika RA dicurigai, kriteria diagnostik RA yang dikombinasikan dengan radiografi, ultrasonografi, dan MRI dapat meningkatkan keandalan diagnostik dibandingkan kriteria diagnostik RA saja. Kekuatan rekomendasi: 9,1 (95% CI 8,6-9,6).  Rekomendasi 2: Memprediksi perkembangan artritis inflamasi yang tidak berdiferensiasi menjadi RA berdasarkan apakah inflamasi terdeteksi pada ultrasonografi dan MRI. kekuatan rekomendasi: 7,9 (95% CI 6,7-9,0).  Rekomendasi 3: Ultrasonografi dan MRI memberikan penilaian yang lebih akurat untuk menentukan peradangan sendi dan lebih unggul daripada pemeriksaan fisik klinis. Kekuatan rekomendasi: 8,7 (95% CI 7,8-9,7).  Rekomendasi 4: Sinar-X adalah tes yang lebih disukai untuk mendeteksi kerusakan sendi, tetapi ultrasonografi dan/atau MRI dapat mendeteksi kerusakan sendi dini pada RA (terutama untuk RA dini) jika kerusakan sendi tidak terdeteksi pada sinar-X. Intensitas yang disarankan: 9,0 (95% CI 8,4-9,6).  Rekomendasi 5: Oedema sumsum tulang yang terdeteksi oleh MRI merupakan faktor risiko independen untuk perkembangan pencitraan RA awal dan dapat digunakan sebagai prediktor. peradangan sendi (sinovitis) yang terdeteksi oleh MRI dan USG dan kerusakan sendi yang terdeteksi oleh radiografi, MRI dan USG dapat memprediksi kerusakan sendi lebih lanjut. Kekuatan rekomendasi: 8,4 (95% CI 7,7-9,2).  Rekomendasi 6: Peradangan sendi yang terdeteksi oleh pencitraan merupakan prediktor respons pengobatan yang lebih baik daripada aktivitas penyakit klinis, sehingga pencitraan dapat digunakan untuk memprediksi respons pengobatan. Kekuatan rekomendasi: 7,8 (95% CI 6,7-8,8).  Rekomendasi 7: Karena ultrasonografi dan MRI lebih sensitif daripada pemeriksaan fisik klinis dalam mendeteksi peradangan sendi, maka tes pencitraan ini dapat digunakan untuk memantau aktivitas penyakit. Kekuatan rekomendasi: 8,3 (95% CI 7,4-9,1).  Rekomendasi 8: Radiografi tangan dan kaki dapat digunakan untuk penilaian kerusakan sendi secara berkala, sedangkan MRI (dan ultrasonografi) lebih sensitif dalam mendeteksi kerusakan sendi dan dapat digunakan untuk memantau perkembangan penyakit. Intensitas yang disarankan: 7,8 (95% CI 6,8-8,9).  Rekomendasi 9: Bila RA dicurigai melibatkan tulang belakang servikal, radiografi lateral ortogonal dan fleksi servikal harus dilakukan. MRI harus dilakukan bila radiografi abnormal atau bila terdapat tanda/gejala neurologis spesifik yang positif. Kekuatan rekomendasi: 9,4 (95% CI 8,9-9,8).  Rekomendasi 10: Ultrasonografi dan MRI dapat digunakan untuk menilai peradangan sendi yang persisten, bahkan dalam remisi klinis RA, karena dapat mendeteksi peradangan sendi dan memprediksi kerusakan sendi lebih lanjut. Kekuatan rekomendasi: 8,8 (95% CI 8,0-9,6).