Kepribadian apa yang rentan terhadap depresi?

       Hubungan antara bakat pribadi dan gangguan afektif telah dibahas sejak lama. Ada perbedaan yang signifikan antara penelitian yang membandingkan temperamen dan ciri-ciri kepribadian pada orang dengan gangguan suasana hati dan individu yang sehat.  Dalam sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders, para peneliti menilai 101 pasien dengan gangguan bipolar I (BP-I), 96 pasien dengan gangguan bipolar II (BP-II), 123 pasien dengan gangguan depresi mayor (MDD) dan 125 individu yang sehat (HS) dengan menggunakan Temperamen dan Inventarisasi Kepribadian (TCI: sebuah model dimensi dari hubungan kepribadian-psikopatologi).  Peserta didiagnosis dan dinilai oleh psikiater yang terlatih secara profesional berdasarkan wawancara diagnostik terstruktur menggunakan kriteria diagnostik DSM-IV ((APA, 1994)) untuk diagnosis saat ini dan seumur hidup, perjalanan penyakit, dan komorbiditas psikiatrik.  TCI menilai kepribadian dalam tujuh dimensi, termasuk empat dimensi temperamen: pencarian kebaruan, penghindaran bahaya, ketergantungan hadiah dan ketekunan, dan tiga dimensi kepribadian: self-efficacy, dan ketekunan. keterarahan, kerja sama dan transendensi diri.  Analisis menemukan bahwa penghindaran bahaya (kecenderungan untuk merespons dengan kuat terhadap sinyal stimulus permusuhan, yang mengarah pada perilaku hati-hati, penghambatan dan kekhawatiran) lebih tinggi pada pasien BP-II dan pasien MDD, tetapi tidak pada BP-I.  Pasien BP-I memiliki kapasitas yang lebih tinggi untuk transendensi diri (transendensi diri: kemampuan untuk mengingat masa lalu dan membayangkan masa depan secara jelas dan konkret ketika membentuk narasi kehidupan pribadi, serta kemampuan untuk mengalami persatuan dengan alam dan untuk membentuk nilai-nilai spiritual).  Model analitis menunjukkan bahwa partisipan yang sehat memiliki kapasitas yang lebih tinggi untuk otonomi (kemampuan untuk membuat penyesuaian dan menyesuaikan perilaku dengan situasi untuk mencapai tujuan pribadi) dibandingkan dengan mereka yang menderita MDD atau BP-II.  Tidak ada korelasi yang signifikan antara dimensi TCI dan tingkat keparahan gejala (skor HAM-D dan YMRS secara keseluruhan).  Tidak ada korelasi antara dimensi CI dan tingkat keparahan episode depresi saat ini.  Sebaliknya, ada korelasi positif antara penghindaran bahaya dan beban keseluruhan episode depresi seumur hidup.  Keterbatasan penelitian ini adalah desain cross-sectional dan heterogenitas sampel. Kesimpulannya, hasil penelitian ini mendukung gagasan bahwa orang dengan MDD dan BP-II memiliki temperamen dan ciri-ciri kepribadian yang serupa, dan bahwa keduanya ditandai dengan tingkat penghindaran bahaya yang tinggi dan tingkat otonomi yang rendah. Sebaliknya, pasien dengan BP-I hanya menunjukkan transendensi diri yang tinggi dan cenderung normal dalam hal penghindaran atau otonomi.